Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

6/10/15

Rindu Tanpa Kata Rindu


Bola matamu menyaksikan ragaku 
Seakan terkam, tangkap hatiku
Kamu hanya diam, tak berkata, pula tak bergeming
Kamu membeku, dingin, hening 
Nyatakah? 
Pandangan kosong tanpa emosi itu 
Sungguhkah? 
Semburat kekakuan raut wajahmu itu 
Tik tik.. jarum jam kian memutar1 tahun 5 bulan 5 hari 5 jam 5 menit 55 detik 
Itu lama kita tak lagi saling bertukar kata, juga isyarat 
Menghitungkah kamu seperti aku? 
Kamu masih memandang lurus ke arahku 
Ku coba melontarkan bunyi, satu huruf saja 
Asal kamu dengar, asal kami mengerti 
Detik berganti detik yang lain 
Aku masih mereka-reka 
Dan kamu tampak perlahan menjauh, 
Lambat-laun hanya terlihat seperti titik 
Lalu lenyap, hampa 
Kupaksa diri ini berdiri, bangun dari ingin semu 
Bolehkah aku meminta padamu? 
Satu saja: 
Bisakah sedetik saja kamu nyata di hadapan ku malam ini?



Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! :D Lebih dari setahun saya tidak menulis disini. Wah, kemana aja saya? Sok sibuk gitu ya kayaknya :D Tapi sebenarnya bukan karena sibuk atau apa sih. Mungkin karena saya sudah lama tidak bercerita soal catatan keseharian saya semacam dulu lagi, jadi kadang ada nemu yang mau diceritakan, eh nggak jadi-jadi ditulis. Ya, memang memulai sesuatu yang sudah lama tidak dikerjakan itu berat rasanya. Tapi percayalah kalau sudah dimulai, pasti akan lebih mudah :)

Meskipun tidak menulis disini, saya masih terkadang menulis di tempat lain loh, seperti di akun Kompasiana saya, juga di blog Kombi (Komunitas Ubi). Ayo coba baca deh blog Kombi, bagus-bagus loh tulisannya. Eh, bukan karena ada tulisan saya ya (tulisan saya cuma ada 3 biji dalam periode Juni 2014-Juni 2015), tapi karena memang disana tulisan-tulisannya bukan asal tulis, tapi melalui proses penyuntingan yang cukup panjang. Begitulah kalau mau membagikan tulisan berbobot ya.

Nah, balik lagi ke judul artikel saya kali ini, saya akan berbagi soal rindu. Coba deh perhatikan puisi saya di awal tulisan ini. Jadi saya pernah baca semacam giveaway gitu. Sudah lama sekali sih. Lombanya itu disuruh buat puisi tanpa kata rindu. Karena penasaran saya bisa nggak ya, lalu saya coba buat. Tapi saya nggak ikutan lombanya :D Dan tadi saya lihat-lihat tulisan di notebook saya, ketemu deh puisi ini. Karena saya sedang rindu blog ini, jadi saya rasa puisi rindu tanpa kata rindu itu sesuai untuk dibagi kali ini.

Ya, saya rindu blog ini. Ingat di awal bagaimana saya mulai menulis disini. Hanya tulisan-tulisan singkat tentang keseharian saya. Lama kemudian, saya menuliskan curahan hati saya, tentang sahabat, juga tentang beberapa "orang" yang sempat singgah menemani hari-hari saya.

Membaca blog ini seakan membuat saya melihat bagaimana saya tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang. Makin dewasa? Maunya sih dibilang gitu ya :D Kalau saya sih menilai saya lebih kuat dari sebelumnya. Kuat menghadapi luka, kuat menghadapi masalah, dan kuat menatap hari depan. 

Membaca blog ini juga membuat saya kembali mengingat orang-orang yang pernah mengukir kisah indah maupun luka bersama saya. Misalnya saya rindu pada kebersamaan dengan sahabat-sahabat SMP maupun SMA. Kami tak lagi menjalani hari-hari bersama-sama secara raga, tapi tentu saja kami masih sering bertukar cerita di kala rindu melanda. 

Lalu, bagaimana soal "orang-orang" yang sempat singgah dalam hari-hari saya dulu? Saya mensyukuri pertemuan saya dengan mereka. Jika ada orang-orang yang menyesali pertemuannya dengan seseorang karena akhirnya terluka, saya tidak. Saya bersyukur kenal mereka. Saya bersyukur pernah merasakan semua yang sudah saya alami hingga sekarang, termasuk kehadiran mereka dalam hidup saya. Kalau tidak bertemu mereka, saya tidak akan bisa seperti sekarang. Mungkin saya masih "lemah" seperti dulu.

Wah, rindu akan blog ini ternyata membuat saya menjejakkan langkah kembali ke masa lalu. Ah, rindu... 

Eh, tapi tak ada salahnya, bukan? Ya, rindu masa lampau itu memang tak salah, namun yang lebih penting adalah siap melangkah ke depan!

Jadi, selamat berindu ria dan selamat melangkah maju!

12/22/10

Kamu itu....


Kata mereka, kamu itu begini
Kata yang lain, kami itu memang seperti itu
Kata dia, kamu itu begitu
Dan kataku, kamu itu istimewa
jika sang hujan mampu sampaikan,
aku ingin ia katakan padamu
begitu berarti dan terindahnya kehadiranmu dalam hidupku
kamu itu anugerah yang tak terkira
yang menghapus segala kekelaman
layaknya kesejukan hujan yang turun setelah mendung
kamu itu berharga untukku
membuat aku merasakan betapa baiknya Tuhan padaku
Ia mengirimkan engkau,
yang mengubah segala sesuatunya bagiku
yang memberi cahaya di dalam gelap ku
kamu itu apa adanya
dan kamu itu selalu ajaib bagiku



Selalu kamu yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Sebenarnya tidak harus begini. Masih banyak hal lain yang harus saya pikirkan selain kamu. Tapi entah mengapa, disela-sela kerumitan jadi mahasiswi ini, kamu selalu terlintas disini, di benak saya. Tidakkah kamu berpikir kamu itu ajaib?

Banyak hal yang saya dengar akhir-akhir ini. Tentang orang itulah, tentang orang inilah, bahkan juga tentang kamu. Tidak banyak yang saya ketahui tentang kamu. Saya hanya mendengar dari sana dan sini. Mengetahui tentang kamu saja, saya belum bisa banyak. Terlebih lagi menyelami pikiran kamu. Kamu itu misterius.

Kamu itu terkesan hadir begitu saja dan terkesan mudah sekali untuk memasuki hati ini. Kamu tidak berkata hal-hal yang indah, kamu tidak berlaku manis, kamu tidak melebihi-lebihkan, kamu tidak seperti itu semua. Tetapi, kenapa kamu bisa mencapai kesini? Ke dalam rongga hati yang dulu tak berisi.

Dan sekarang… biarkan saya menjaga kamu d hati ini. Apapun nanti yang terjadi, biarlah terjadi. Kamu telah menjadi seseorang yang menjadi bagian dalam hidup saya.

5/10/10

Membosankan

Saya itu orangnya cepat bosan. Bosan makan ini, bosan pakai baju ini, bahkan terkadang bosan terhadap seseorang :p

Akhir-akhir ini ada kebosanan baru saya, yaitu bosan ngetik. Awalnya, saya semangat dan rajin ngetik ( baca: ngetik pakai mesin tik =.= ) laporan. Tiap hari sabtu dan minggu, biasanya ngetik dan hari senin udah selesai. Tapi akhir-akhir ini, bosannya bukan main. Liat mesin tik itu aj rasanya mual. Niat aja nggak ada, gimana mau ngetik dengan terpaksa. Huh! Saya benci ngetikkkkk..

Tapi mau gimana lagi. Besok sudah pratikum, saya terpaksa harus ngetik :(
Kali ini benar-benar karena terpaksa. Membosankan..

Tukkkk tukkkkkkk tukkkkk..
Tangan saya pegel-pegel lagi mengetik >.<


Hari ini aku disini
Melihat keadaan sekitar
Lelah, membosankan
Semuanya begini-begini saja
Letih, mual
Keliatannya yang itu-itu saja
Ingin teriak pada dunia
Tolong hentikan! Hentikan hal-hal yang membosankan ini!
Tapi dunia tak bisa berbuat apa-apa
Karena kebosanan merupakan bagian darinya



Padang,
kos

1/18/10

Melodi


Denting melodi itu mengukir hari ini
Melodi itu, betapa takjub aku mendengarnya
Halus dan menyayat kalbu
Aku serasa terseret-seret, masuk dalam melodi itu
Melodi itu mengalun seakan tiada henti
Menjadikan anganku masih melayang tinggi
Sejenak, aku merasa lupa
Lupa dengan kelelahanku,
Lupa dengan segala kejenuhanku
Namun hanya beberapa saat saja
Hingga tiada terdengar bisik sekalipun
Hening kembali, sunyi
Aku kembali ke kehidupanku..





NB :
Saya suka musik. Kalau mendengar musik, pasti bawaannya pengen nyanyi. Selanjutnya, semua beban serasa hilang, meskipun hanya sesaat. Kalau di rumah asiknya genjreng-genjreng gitar. Walaupun hancur-hancuran mainnya dan suaranya cuma buat diri sendiri, yang penting saya merasa senang :)

Biasanya saya melakukan hal tersebut di dalam kamar (pastinya ditutup supaya nggak ada yang merasa terganggu :p). Sekarang saya merindukan kegiatan menyenangkan itu. Di kos, cuma bisa dengar lagu. Pengen sih bawa gitar jelek itu kesini, tapi itu juga kegiatan papa saat mati lampu. Jadi kalau nggak ada lagi, papa pasti bosan :) Solusinya? Nabung buat beli yang baru? Atau minta dibelikan dengan berbagai alasan karangan sendiri? Nanti saya pikir-pikir lagi :D

1/13/10

Hujan Rintik-Rintik


Hujan rintik-rintik lagi
Kesejukn yang ia bawa, hadir kmbali
Tetesnya yang semangatiku , ad lagi
menggumpal, menyatu, menjadi suatu harapan baru
betapa besar artinya bagi hidupku
tak terbatas bahagiaku karenanya
pikirku pun terhanyut akan ia
merasuk, menjelma
tidak kah kau tahu sang hujanku adalah sahabat terbaik ku?
ia ada disaatku butuh, ia hadir untuk lenyapkan sekelumit problematika kehidupanku
hujan rintik-rintik lagi
temani detik-detik waktuku..

1/11/10

Mimpi


tiap detik waktu,
tak kan pasti tetap begini
tak kan yakin selalu seperti yang dimaui
kadang harapan akan mimpi-mimpi itu begitu nyata,
terasa begitu dekat
layaknya bintang yang sepertinya dekat,
namun tetap saja tak bisa digapai
mimpi-mimpi ini tak pantas diharapkan
karna saat sadar semuanya tak bisa diraih,
jatuhnya begitu sakit
mungkin ini memang hanya sebuah mimpi,
yang hadirnya hanya untuk senangkan hati
atau sebagai pelipur lara?
tapi, aku terlanjur sudah,
terlanjur merasa sakit akan harapan kosong ini
aku tak berdaya lagi,
mungkin aku tak kan sprti dlu lg,
mungkin aku tak kan punya mimpi..