Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

5/13/13

Lagu Tentang Hujan


Entah sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai hujan. Suaranya, kesejukan yang dibawanya, membuat saya jatuh cinta. Kehadiran hujan membuat saya selalu tersenyum dan merasa bahagia. Ya, saya mencintai hujan.

Tapi, saya ingat bahwa saat itu saya masih siswi SMA. Anak-anak SMA punya kesukaan—ketertarikan—pada suatu hal. Contohnya, sahabat saya Rika. Dia menyukai bintang. Segala pernak-perniknya berlambangkan bintang. Gantungan kunci HP-nya berupa bintang, wallpaper HP-nya gambar bintang, layout Friendster-nya ada bintang-bintang, sampai bajunya pun ada simbol bintang-bintang. Lain lagi dengan Icha. Sahabat saya satu ini dulunya menyulai kupu-kupu. Sama seperti Rika, ada banyak barang yang dimilikinya bergambarkan kupu-kupu. Kalau Riri beda lagi, dia menyukai warna pink. Pernak-perniknya pun serba pink. Mungkin salah satu alasan saya sampai sekarang menyukai warna pink karena terpengaruh dengan Riri :D Dan saat mereka memilih ketertarikan mereka masing-masing, saya memilih menyukai hujan.

Tak berbeda dengan mereka, saya pun mulai menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hujan. Saya mulai suka menulis tentang hujan. Puisi hujan, cerita tentang hujan, hingga lagu tentang hujan. Kali ini saya akan bercerita khususnya tentang lagu yang berhubungan dengan hujan.

Waktu itu saya masih pecinta hujan yang amatir :D banyak hal yang tidak saya ketahui tentang hujan. Pokoknya saya mau dibilang pecinta hujan, titik! :D Mungkin seperti anak SMA kebanyakan yang mencari kesukaannya, identitasnya, saya pun begitu. Saya merasa bangga dengan menyebut diri saya pecinta hujan :D

Kelas 2 SMA, ujian praktek seni musik kami adalah menciptakan sebuah lagu dan menyanyikannya di depan guru seni. Waktu itu kami jadi sibuk belajar main alat musik untuk menciptakan lagu. Alat musik yang  popular di kelas kami adalah gitar. Hal ini dikarenakan hampir semua—hanya 1 atau dua orang—anak cowok di kelas kami yang tidak bisa memainkan gitar. Alhasil, tiap kelas kosong—guru tidak masuk karena berhalangan—kami bernyanyi bersama dengan diiringi gitar yang dimainkan anak cowok. Wah, memang masa-masa itu begitu indah dan tak akan bisa dilupakan :D Ya, kelas kami bisa dibilang kelas pecinta musik. Tidak cuma anak cowok, juga ada beberapa anak cewek yang bisa main gitar. Kami sekelas suka musik. Bahkan, saat ada perlombaan menyanyi antar kelas saat peringatan hari guru, kelas kami mendapat juara 1 :D Memang sih itu berkat salah seorang teman cowok yang memang berbakat musik. Hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Lagu-lagu yang kami bawakan saat lomba itu, dia yang mengaransemennya :D Wajar juga kami menang :D

Nah, sejak itu saya juga ikut belajar main gitar. Saya benar-benar belajar sendiri. Lihat-lihat teman yang main gitar di kelas, kemudian di rumah saya coba praktekkan. Akhirnya saya mulai tahu kunci-kunci gitar dasar. Dengan bermodalkan itu, saya menciptakan lagu tentang hujan. Ya, dulu saya tidak tahu lagu tentang hujan yang hits. Sampai-sampai seorang teman lelaki yang memperkenalkan lagu Hujan-nya Utopia pada saya. Saya langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu itu. Liriknya, musiknya, saya benar-benar menyukainya. Terlebih lagi karena tentang hujan. Seketika lagu Hujan-nya Utopia menjadi lagu favorit saya, yang saya putar berulang-ulang di HP :D

Selain lagu Hujan-nya Utopia, lagu tentang hujan yang kedua saya dengar waktu itu adalah lagu ciptaan teman lelaki saya itu. Dua baris liriknya saya letakkan sebagai header di blog saya ini :D Ya, saya juga suka sekali dengan lagu teman saya ini. Agaknya saya bersyukur malam sebelumnya kami bertengkar sampai akhirnya dia membuatkan saya lagu ini :D Padahal sebelumnya udah berminggu-minggu saya memaksanya menuliskan puisi tentang hujan sebagai kenang-kenangan sebelum kami tamat SMA. Waktu itu memang saya dan teman-teman sekelas berusaha memberi kenang-kenangan sebelum berpisah. Eh, akhirnya dia sendiri yang menyodorkan flashdisk yang berisikan lagu itu pada saya. Sepertinya itu salah satu bentuk permintaan maafnya :D Berikut lirik lagu ciptaan teman saya yang diberinya judul Hujan:

Hujan yang turun 
Perlahan merintik-rintik 
Ku duduk termangu 
Di jendela kamarku


Izinkanlah diriku
Mendengar rintikan tarian hujanmu 


Hanya hujan 
yang bisa mengisi kehampaanku 
Hanya hujan 
yang bisa membuatku kuat berdiri sendiri….

Sederhana tapi liriknya terasa nyata sekali. Ya, benar. Saat saya letih minta ampun, saat saya sedang kangen rumah atau sahabat-sahabat, hujan adalah obatnya. Hujan membuat saya merasa damai, tenang, dan nyaman. Menakjubkan.

Saya tidak tahu apa sahabat-sahabat saya sejak SMA masih menyukai hal-hal yang mereka sukai sewaktu SMA. Komunikasi kami masih baik. Namun, tiap bertemu kami sama sekali tidak menceritakan hal-hal kecil di masa lalu. Biasanya kami bercerita tentang bagaimana kuliah dan kabar teman-teman lainnya. Meskipun begitu, saya masih menyukai hujan hingga detik ini. Ya, saya masih mengagumi hujan dan rasa bahagia oleh karenanya. Masih dan mungkin akan terus menyukainya…. :)

4/8/13

Hujan dan Kamu



Bagiku kehadirannya bukan mengusik
Tidak mengganggu atau membuatku merasa menyesal
Mungkin karena aku begitu mencinta
Menyukai tiap tetes sang hujan
Ya, mungkin saja…
Mungkin karena aku merasa sudah begitu dekat
Akrab pada sang hujan
Mungkin…

Hujan terakhir turun dua hari yang lalu. Entah berapa hari lagi hujan hadir kembali. Hari ini dan kemarin, matahari bersinar dengan cerahnya. Padahal beberapa hari lalu, setiap hari selalu hujan. Alhasil, banyak orang yang merasa tidak enak badan karenanya. Ya, katanya faktor cuaca―hujan seharian. Tapi, saya tidak.

Ya, mungkin tubuh saya juga kurang baik karena dinginnya hari-hari yang lalu. Namun, tubuh saya bertahan. Atau mungkin sudah kebal? Saat teman saya bertanya: “Tidak kedinginan, Fan?” Saya menggeleng dan berkata: “Saya suka dingin. Biasa.” Mungkin itu juga salah satu alasan saya menyukai hujan: dinginnya, kesejukannya.

Itu tentang hujan. Lalu, bagaimana tentang kamu?

Meski telah reda, ia masih menyisakan kesejukan
Meski tak lagi bersuara,
kenyamanan yang ia bawa masih ada
Ya, ialah sang hujan yang selalu kucinta 
Seperti sederhananya sang hujan, 
Begitu pula sederhananya kamu yang membawa bahagiaku..

Kamu itu seperti hujan. Dingin. Tapi, saya suka. Ya, benar. Saya banyak belajar dari kamu. Sungguh, bukan orang seperti kamu―yang saya bayangkan―untuk menjadi tempat saya “jatuh”. Kamu jauh sekali dari seseorang yang saya impikan. Dari situlah saya belajar menerima dan memahami.

Semakin hari, saya semakin terbiasa dengan kamu. Kamu yang yang diluar pemikiran saya. Kamu yang punya cara berbeda. Kamu yang apa adanya. Semakin pula saya merasa saya semakin kekanak-kanakan dibandingkan kamu. Tapi, bagi saya kamu itu lucu. Kata-katamu, responmu, “dingin”mu, terlalu sering membuat saya senyum-senyum sendirian. Mungkin terasa lucu karena itu kamu. Mungkin membuat saya bahagia, ya karena orang itu adalah kamu.

Kamu dan hujan itu mirip. Dinginnya hujan sudah biasa bagi saya. Mirip dengan kamu. Kamu yang kadang-kadang menjengkelkan, menyebalkan, merespon dengan seenaknya saja, sudah biasa bagi saya. Tidakkah kamu tahu? Kamu dan hujan, membuat saya bahagia.

3/12/13

Memanajemeni Waktu



Siang hingga sore tadi akhirnya hujan mengguyur kota ini. Hati saya berteriak bahagia. Akhirnya, hujan yang saya nanti-nantikan hadir juga. Ya, dibalik kemumetan semua ini, saya sangat memerlukan hadirnya hujan, sang pemberi ketenangan, kesejukan, dan kenyamanan. Rasa-rasanya segala letih larut dibawa rintiknya. Sungguh menyenangkan :)

Beberapa minggu terakhir ini, saya merasa biasa-biasa saja. Bukan “biasa” dalam hal baik sih. Namun, ya biasa dalam maksud buruk. Apa-apa terasa biasa. Gak ada rasa senang. Gak ada rasa sedih. Gak ada rasa terharu. Biasa saja. Bahkan, saya merasa jenuh. Ya, benar. Saya bosan.

Kata seorang teman, hal ini wajar dialami mahasiswa tingkat akhir. Ya, mungkin itu salah satu alasan “biasa” atau kejenuhan ini. Tapi, saya rasa tidak hanya itu saja. Mungkin alasan lainnya adalah kurangnya waktu saya bersama-Nya. Bukan saya bilang bahwa Ia tidak bersama saya atau meninggalkan saya. Bukan, sama sekali bukan itu maksudnya. Namun, saya merasa kurang memberi waktu untuk bertemu dengan-Nya. Sungguh memalukan.

Jadi, waktu-waktu saya kemana? Saya habiskan untuk apa saja? Untuk ini:
-          Penelitian
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya saya dan rekan-rekan sepenelitian dapat memulai penelitian kami. Lamanya penantian ini sungguh membuat saya jadi ogah-ogahan. Bagaimana tidak? Saya kurang suka dengan sikap pembimbing kami yang tidak “jelas”. Janjinya tidak bisa dipegang. Kalau mau bertemu, gak ada waktu yang pasti kapannya. Ah, sungguh membuat kesal. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Mungkin juga ini salah satu cara-Nya agar saya belajar lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih menjaga emosi. Mungkin saja, bukan? Tapi, saya bersyukur kami melewati ketidakpastian itu hingga bisa memulai penelitian ini. Mekipun masih dalam proses try and error, tapi sudah ada yang kami kerjakan dan hasilkan. Berkali-kali error tidak jadi masalah.Ya, tetap aja harapannya jangan sampai error terus :D Semoga saja, penelitian ini berakhir baik. Kerumitan, kemumetan prosesnya, itu tak jadi soal buat saya. Kalau lancar-lancar aja, mungkin saya tak pernah belajar mengalami kesulitan.

-          Praktikum
Sudah jadi mahasiswa tingkat akhir, masih ada praktikum juga? :D Ya, saya tetap praktikum, tapi tidak sebagai praktikan lagi, melainkan sebagai asisten (kata teman saya, kami sudah naik tingkat ^^ ). Setelah menjalani peran baru ini, saya baru menyadari bahwa menjadi asisten tidak mudah, tidak santai-santai saja, dan tidak enak. Bayangkan? Sebelum praktikum dimulai, asisten terlebih dahulu praktikum (try and error). Hal ini sangat diperlukan agar saat praktikum tidak terjadi masalah. Selain itu, asisten juga harus belajar, bahkan harus lebih banyak belajar daripada praktikan. Kalau tidak, bagaimana mau membantu mereka memahami percobaan yang dilakukan? Ya, saya menjadi belajar kembali sejak jadi asisten. Hal lainnya, menjadi asisten juga membantu saya belajar sabar menghadapi berbagai karakter praktikan-praktikan :D Ya, meskipun lelahnya luar biasa (setiap pulang praktikum, saya langsung tepar di kasur), saya menikmati dan memang harus menikmati peran baru ini :)

-          Pelayanan
Pelayanan disini maksudnya adalah kegiatan-kegiatan rohani. Ya, saya mengambil bagian dalam suatu pelayanan mahasiswa. Jadi, ada tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Tugas-tugas itu tidak mudah dan cukup menyita waktu saya. Kadang juga membuat saya mumet dan cukup emosi. Tapi, ini juga termasuk dalam pembentukan karakter saya. Gak masalah. Saya juga menikmatinya :)


Ya, tiga hal tersebut begitu menyita waktu saya. Kelelahan, itu pasti. Mungkin itu juga yang membuat saya merasa jenuh. Kalau soal beban sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya rasa tidak seberapa. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang mengerti betul saya. Tiap mendengar keluhan teman-teman yang bilang orangtuanya nanyain kapan wisuda, saya hanya bisa tertawa. Beda sekali dengan mama dan papa. Beliau tidak menuntut saya wisuda cepat-cepat. Ya, pada waktunya juga akan wisuda kok. Saya senang, mereka begitu memahami apa yang saya alami :)

Kembali lagi pada kurangnya waktu saya bersama-Nya, saya mulai mengatur ulang waktu saya. Bahasa kerennya: belajar manajemen waktu :D Waktu saya untuk bersama-Nya dari jam berapa sampai jam berapa, waktu untuk membaca, menulis, belajar, dll mulai saya atur. Jadi, waktu untuk-Nya sama sekali bukan waktu sisa, namun waktu yang disisihkan―berkualitas. Ya, semoga saja upaya saya ini menghadiahkan sukacita yang dulu saya rasakan. Yap, saya rindu bersukacita dalam kelelahan, dalam kemumetan, dan dalam ketidakenakan. Berharap saya bisa menemukan sukacita itu lagi ^^ Hwaiting fany! :D   

8/27/12

Terus Menulis


Sudah begitu lama saya tidak menulis di blog ini. Ya, memang beberapa waktu lalu saya kembali menulis tentang kisah saya selama masa KKN. Namun, selain itu, saya tidak tahu harus menceritakan apa. Mungkin itu alasan saya sudah begitu lama tidak menulis. Mungkin karena tidak ada niat. Mungkin karena kesibukan-kesibukan saya. Atau mungkin saja karena yang alami biasa-biasa saja, sehingga tak ada yang pantas diceritakan. Atau kemungkinan terakhir, apa karena kamu tidak lagi berada di sisi saya ya sehingga saya kehilangan semangat untuk menulis dan bercerita? Ya, biasanya saya senang menulis apa yang saya rasa. Saya suka menulis tentang kamu. Saya rasa, kamu salah satu alasan saya semangat untuk menuliskan curahan hati saya di blog ini. Ya, sepertinya kamu alasan utama atas segala halnya. Tapi, cukup tentang kamu. Sekarang saya kembali menemukan nikmatnya menulis :)

Beberapa waktu lalu, saya membaca beberapa postingan blog saya yang dulu-dulu. Benar,ternyata saya menyukai setiap posting yang ada tentang kamu. Hei, hei. Kok tentang kamu lagi. Cukup, cukup. Nah, setelah membaca semua postingan itu, saya merasakan kembali semangat menulis. Ternyata memang begitu menyenangkannya bisa menuangkan seluruh yang saya rasa dalam bentuk tulisan. Ya, saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Saya juga orang yang sulit untuk beramah-tamah dengan sesama. Saya tipe yang tidak suka hal seperti itu. Sampai-sampai, untuk mengatakan ‘terima kasih’ saja rasanya berat sekali. Aneh ya? Makanya, tulisan sangat berharga bagi saya. Ada begitu banyak kata yang tidak bisa saya ucapkan. Dengan tulisan, saya bisa mengungkapkan semuanya. Lengkap, jelas. Semuanya. Tanpa perlu takut atau segan mengungkapkannya. Huahh, benar-benar lega :D

Sebenarnya saya lupa sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai  dunia tulis-menulis. Dulu semasa SMP, saya suka menulis puisi. Kalau dibaca puisi saya saat masih SMP, wah saya jadi malu >.< Sepertinya benar-benar kacau :D Asal-asalan saja. Lalu, seingat saya, saya mulai suka menulis novel remaja/teenlit saat SMA. Novel Dealova-nya Dian Nuranindya menginspirasi saya untuk bercita-cita menjadi penulis novel. Saya mulai menulis novel. Saya menyelesaikan novel teenlit pertama dengan banyak halaman 68. Wah, saya jadi senyum-senyum sendiri mengingat itu :D Bayangkan, 68 halaman, isinya percakapan yang nggak jelas pula. Singkat-singkat dan garing pula dialognya. Yang penting halamannya banyak euyy. Hahaha :D saya kasih deh,sepotong  percakapan ngawur novel pertama saya :

“Panas banget nih mienya!” ucap Alvin sambil megap-megap.
“Nggak penting panas atau enggaknya. Yang penting makan!” kata Della.
“Hmm… iya deh!”
“Jadi nggak minta maaf dulu ama gue?”
“Hah! Minta maaf, apaan?”
“Enak aja loe! Loe udah buat kaki gue sakit, tau!”
“Kan loe yang mau turun!”
“Lagian loe yang nggak ikhlas!”
“Emang!”
“Dasar cowok sok!”
“Bukannya sok, tapi emang benar!”
“Cerewet!!!”
“Elo tuh yang cerewet! Dasar cewek!!!”
“Loe ngehina cewek?? GUE NGGAK TERIMA!!!”
“Eh,eh, diam donk! Dari tadi, temen-temen loe ngelihatin kita! Sekarang, mereka tambah ngelihatin kita, cerewet!”
“Itu semua gara-gara loe!!!”      

*Ngakak bentar

Beneran, sampai sakit perut rasanya ngakak baca novel pertama saya dulu. Maksudnya, mau kayak novel Dealova, yang ada berantemnya Kara dan Dira. Eh, jadinya malah kayak gitu. Maksa banget :D

Tidak berhenti sampai disitu, saya menulis beberapa novel lainnya. genre-nya sama, teenlit. Dulu, saya pernah bermimpi menjadi penulis novel terkenal, setidaknya memiliki novel yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan. Bahkan, saya pernah memimpikan seandainya novel saya diangkat menjadi film, seperti Dealova :D Sebenarnya impian begitu tak jadi soal. Yang lucunya, novel yang saya tulis semasa SMA itu novel yang dangkal sekali ceritanya, kalau saya baca sekarang. Padahal dulu  rasanya saya sudah begitu puas dengan novel-novel itu >.< Tapi, saya sangat bersyukur karena masih memiliki dokumen-dokumen novel tersebut meskipun ada beberapa yang hilang karena  sudah beberapa kali pindah komputer, sampai akhirnya masih tersimpan di laptop saya tercinta ini. Dan ternyata semangat saya untuk memulai novel yang baru tidak sebanding dengan semangat menyelesaikannya. Cukup banyak novel-novel lama saya yang tidak selesai. Namun, syukurlah masih ada kenangan-kenangan yang tidak hilang :)

Dalam masa peralihan dari siswi SMA menjadi mahasiswi, saya masih menulis. Saya menulis di catatan dalam akun facebook saya. Dan akhirnya, sampailah saya ke blog ini. Sebenarnya saya sudah cukup kenal blog. Beberapa teman saya sudah memilikinya. Bahkan, saya pernah menjadi diminta untuk posting suatu cerpen ke blog teman. Namun, saya belum niat memiliki blog sendiri. saya takut tidak bisa mengurusnya. Pikiran saya berubah saat saya begitu tertarik dengan suatu blog. Tulisan-tulisannya bagus sekali. Saya jadi semangat menulis di blog dan mulailah saya posting pertama. Setelah dilihat-lihat, tulisan saya di awal blogging itu polos sekali ya :D Sekarang sudah lumayanlah. Hehe :D

Ya, begitulah kisah saya dan tulisan saya. Yang tidak berubah dari tulisan saya.. hmm.. apa ya? Mungkin tentang hujan. Sedari SMA saya mulai menyukai hujan dan sampai sekarang. Meskipun perasaan saya sudah berpindah-pindah dari orang itu, orang ini, orang yang lain lagi, tapi perasaan saya akan hujan belum berubah. Saya masih menyukai suaranya, tetesnya, dinginnya. Ya, masih.

Dengan tulisan ini, saya ingin mencoba semakin giat menulis. Maunya sih sebulan sekali bisa nulis di blog ini. Ya, semoga saja saya tetap semangat ya karena sebaiknya menulis bukan karena mood, tapi karena saya benar-benar menyukai menulis. Mari mulai menulis, tetap menulis, dan terus menulis! Hwaiting!^^

2/14/12

Resolusi


Setelah lama tidak menyentuh dunia blog, akhirnya saya kembali. Waaaaahh, kangen sekali untuk bercerita..

Dia tahu sudah tak bisa lagi
Tapi kamu masih mencoba bertahan
Seolah-olah mampu
Kamu masih melawan derasnya hujan itu
Dia berteriak-teriak bilang jangan lagi
Tapi kamu tak mau tahu
Seolah-olah bisa jadikan seperti yang kamu inginkan
Kamu bersikeras, kamu tak mau dengar
Dia kembali ingatkan, sudah, sudah
Dan akhirnya kamu menyadari
Ternyata kamu pun tak sanggup
Ternyata kamu pun begitu rentan
Lalu, kamu pun tahu
Bukan rencanamu yang jadi, tapi rencana-Nya

Di tahun 2012 ini, ada berbagai resolusi besar yang menjadi komitmen saya. Saya ingin membuang kesalahan-kesalahan di masa lalu dan bangkit jadi yang baru lagi di dalam-Nya. Begitu banyak hal yang baru sadari dari dalam diri saya sendiri. Ternyata saya tidak baik-baik saja. Ternyata saya tidak sekuat itu. Ternyata ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari dalam diri saya.

Terkadang manusia sering sekali tidak melihat kesalahan pada dirinya sendiri, tapi kalau melihat kesalahan orang lain, wah gampang sekali rasanya ya. Jadi manusia itu lebih enak menganggap sesuatu terjadi karena kesalahan orang lain, daripada karena kesalahan diri kita sendiri. Saya menyadari, ternyata begitulah saya. Ternyata saya sendiri lemah. Saya rentan.

Tapi, saya tak mau cukup sampai begini saja. “Tuhan tidak menghitung berapa kali kamu jatuh, tapi berapa kali kamu bangkit dari kejatuhan itu.” Saya percaya, saya bisa bangkit. Perlahan-lahan, tapi dengan komitmen yang kuat, saya yakin. Seperti layang-layang jatuh, Tuhan datang pada saya dan bilang “Kita dapat memperbaikinya.” Saya menyerahkan diri saya seutuhnya ke dalam tangan-Nya dengan bilang, “Iya, Tuhan. Ajarkan saya cara memperbaikinya bersama-Mu.”

Ternyata saya menemukan kelimpahan itu di dalam-Nya. Saya merasa pemeliharaan-Nya begitu hebatnya pada saya. Kasih Tuhan tak pernah habisnya bagi saya. Tuhan membantu saya memperbaiki diri saya tanpa saya tahu bagaimana Ia bekerja. Lalu saya kembali bersyukur pada-Nya. Tidak ada lagi keraguan dalam hati saya. Saya tidak akan pernah kekurangan apapun di dalam Dia. Saya tidak akan merasa sendirian bersama genggaman tangan-Nya.

Tahun yang baru, resolusi yang baru. Saya siap Tuhan bentuk seperti yang Ia kehendaki, meskipun terkadang sakit rasanya.

Selamat berjuang di tahun yang baru ini. Hwaiting! :)

2/16/11

Percayalah...

Menyelinap tanpa disadari
Hadir tanpa diketahui
Diam-diam memenuhi hati ini
Merambat, meresap
Aku percaya..
Rasa ini, rasa untukmu…

Mungkin masih banyak hal yang tidak kamu percayai dari saya. Mungkin sangat banyak. Mungkin juga sangat sulit. saya tidak menyalahkan kamu. Saya juga. Saya orang yang tidak gampang mempercayai suatu hal. saya hanya akan mempercayai hal yang saya ingin percaya. Berbeda dengan kamu yang selalu butuh bukti. Aneh kan saya? Ya, saya itu sebenarnya sangat aneh. Banyak hal yang saya lakukan, tanpa saya ketahui alasannya. Mungkin saya tidak tahu atau tidak ingin mencari alasannya. Tapi, saya tahu satu hal kok, Tuhan punya segala maksud atas semuanya dan Ia yang serba tau, bukan saya.

Mungkin semua ini masih terasa berat untuk saya. Memahami kamu, mengerti kamu, apalagi mengerti akan kehendak-Nya. Semuanya itu tidak segampang kata-kata yang diucapkan. Namun, saya juga orang yang tidak pernah kenal kata menyerah. Saya berusaha. Sampai detik ini, saya masih berusaha. Berusaha untuk semakin mengenal dan memahami kamu. Berusaha untuk mencari tau, apa memang benar kamu yang Tuhan kehendaki untuk saya.

Saya masih seorang manusia, yang tidak sempurna dan punya banyak kekurangan. Saya masih terus belajar, untuk terus memperbaiki diri. Setiap manusia sudah menjadi keharusannya untuk berusaha memperbaiki dirinya dalam hal apapun, begitu pula dengan saya. Dan saya yakin, kamu juga ingin memperbaiki diri untuk kebaikan kamu sendiri. Saya tidak ingin mengubah kamu menjadi orang lain. Tapi, saya ingin kamu menjaga diri kamu dengan sebaik-baiknya untuk kamu sendiri.

Dan saya mengerti tentang rasa yang hadir disini, di relung hati saya. Saya paham bahwa ini bukan hanya perasaan suka, layaknya anak SMA. Saya sudah mengalami jadi anak SMA yang berkali-kali suka pada seseorang. Saya tahu kok bedanya rasa suka dan rasa yang saya rasakan sekarang. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari segala hal yang telah saya alami dan kamu sudah tahu beberapanya.

Tidak cukup hanya kata-kata yang bisa saya tuliskan untuk mengungkapkan betapa saya sangat bersyukur bisa mengenal kamu. Kehadiran kamu terasa begitu berarti dalam hidup saya. Saya tahu begitu banyak perbedaan saya dan kamu. Namun, itu semua serasa menyenangkan buat saya. Toh perbedaan itu yang membuat orang-orang saling melengkapi. Itu semua menambah pelajaran hidup saya. Seperti yang kamu bilang, ‘masalah yang kita alami melatih kita untuk lebih berpikir dan bersikap dewasa’ dan ‘orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa’.

Kali ini saya benar-benar serius. Saya percaya pada janji kamu. Tidak butuh banyak janji, cukup satu janji itu kamu penuhi, saya sudah sangat berterima kasih. Lagipula kamu tahu kan maksudnya saya bersikeras kamu harus memenuhinya? Ya, tentu saja itu semua juga untuk kamu.


Kamu salah satu alasan saya lebih serius dalam studi, juga dalam kedekatan saya dengan-Nya. Semoga saja kita semakin saling mengenal, mengerti, dan memahami seiring bergulirnya waktu. Seperti saya mempercayai setiap kehadiran hujan adalah bahagia saya dari-Nya, begitu pulalah saya percaya Ia akan memberikan yang terbaik untuk kita asal kita menyerahkan segala sesuatunya ke tangan-Nya. Percayalah  J

11/19/10

Akhirnya....

Kayaknya di Indonesia nggak ada lagi yang namanya musim kemarau. Tinggal musim penghujan yang mengisi hari-hari. Pagi, siang, sore, malam, bahkan kadang dini hari aja udah hujan. Mau ke kampus, datang hujan. Mau ada kegiatan lain, hujan tiba. Saya emang nggak bosan-bosannya dengan hujan. Meskipun saya nggak suka kehujanan. Yang saya suka sensasi hujan, beda dan indah. Mungkin orang-orang pada bosan dengar cerita kecintaan saya tentang hujan, tapi ya mau gimana lagi. Saya-nya nggak bosan –bosan sih 

Biasanya saya udah kebal dengan yang namanya kehujanan. Basah kuyup, udah jadi makanan sehari-hari akhir-akhir ini. Banyak orang yang bilang saya harus waspada supaya nggak kehujanan, entar sakit. Tapi, ya namanya saya yang sedikit nggak mau dengar apa kata orang, paling saya cuma jawab,”Tenang. Udah kebal kok.” Dan itu benar loh. Sekali dua kali kehujanan nggak jadi masalah sama saya. Paling cuma sakit kepala dikit doank. Namun ternyata….

Akhirnya saya jatuh sakit juga. Badan kedinginan, suhu tubuh meningkat, lidah mati rasa, kepala sakit, flu, semuanya campur aduk. Tapi, saya tetap bangga kok sama sistem imun tubuh saya. Sejak awal masuk semester baru ini, saya banyak sekali kehujanan. Namun, dua bulan kemudian, saya baru jatuh sakit. Hebat kan? 

Demam di rantau itu nggak enak, nggak ada untungnya. Kalau di rumah, demam terkadang jadi keuntungan. Biasanya, mama bakal mengabulkan apa saja permintaan saya kalau sedang sakit (udah kayak om jin aja :P). Asik kan? Itu enaknya berada dekat dengan keluarga. Tapi kalau jauh gini? Huh. Kebanyakan anak kos pasti ngerasa nggak enak banget kalau sedang sakit. Yang ada di pikiran adalah, pulang ke rumah, rumah, dan rumah. Seperti yang saya rasakan. Yang kepikiran cuma mama, mama, dan mama. Hehehe .

Saya nggak bilang, nggak ada yang peduli sama saya disini. Gini-gini, banyak yang ngomelin saya gara-gara nggak mau minum obat. Tapi, saya tetap pada pendirian saya dari dulu. “Entar juga sembuh sendiri.” Saya percaya, istirahat yang cukup adalah obat yang paling manjur. Kayaknya akhir-akhir ini saya cukup banyak beraktifitas. Tapi, saya masih bisa bersyukur kok atas mereka yang udah merhatiin dan peduli sama saya.

Kadang saya banding-bandingin, sakit saat punya seseorang yang spesial dengan sakit saat lagi sendiri. Sakit saat nggak sendiri itu masih ada nyenenginnya. Ada yang khawatirin, ada yang maksa-maksa buat berobat ke dokter, beliin obat, dan nganterin makanan. Saya jadi malu ketika sadar, saya manja banget pas lagi sakit. Tapi, wajar toh. Namanya aja orang sakit 

Sekarang saya lebih mandiri. Meskipun ada sih yang nawarin bantu apa aja yang saya inginkan. Tapi, enggaklah. Saya nggak mau ngerepotin lagi. Saya mau istirahat saja sejenak. Lelah, letih. Saya ingin mencoba mengosongkan pikiran saya sejenak, dari kuliah, laporan praktikum, dan juga dia yang tidak saya mengerti hingga sekarang. Saya akan mencoba benar-benar meliburkan pikiran dan juga fisik saya. Sakit itu nggak enak banget kan? Jadi doakan saya cepat sembuh ya 

4/15/10

Six Angels

Mereka ada diantara gerimis
Mereka tercipta seiring turunnya hujan,
seirama dgn gemericik hujan
Mereka ada tiap gelapnya malam
Mereka ada saat matahari terbit
Mereka ada tiap bergeraknya jarum jam
Mereka lebih dari sekedar teman
Mereka sahabat..


NB :
Saya kangen dgn teman2, six angels. Six angels itu terbentuk tepatnya tahun 2004. Maklum, anak SMP lagi asik-asiknya punya gank.
Kalo hari jadinya six angels sebenarnya kami tidak ingat tepatnya. Jadilah kami jumlahin semua tgl lahir kami, terus dibagi 6 :)
Benar-benar aneh :p

Bersama mereka itu benar-benar tidak ada letihnya. Semuanya terasa indah. Lucu, senang, perih, kami rasakan sama-sama.

Kami bubar pas kelas 3 SMP karena suatu masalah. Tapi kami semua percaya, persahabatan kami yang sesungguhnya tidak akan pernah terhapus dari hati dan pikir kami masing-masing.

Sampai sekarang, kami masih sering contact-contact dan kalo punya wktu, ngumpul bareng.

Rika, Yani, Icha, Uci dan Dinda..

i love u, guys :)

4/8/10

Benci?

Saya itu seseorang yang gampang membenci seseorang, tapi juga gampang melupakan alasan saya membenci orang tersebut dan mengobrol dengannya, seperti teman. Bnenar-benar susah bagi saya untuk benar-benar membenci seseorang. Mungkin karena saya terlalu baik kali ya :p

Sewaktu SD dan SMP, saya banyak sekali membenci orang. Tapi seperti biasa, beberapa waktu kemudian saya malah bisa jadi berteman dekat dengannya :)

Sewaktu SMA, saya sangat, sangat, dan sangat membenci dia! Tapi membenci dia adalah tempo yang paling singkat dari semua orang yang pernah saya benci. Setiap ingat waktu yang telah saya habiskan bersamanya, saya malah jadi bahagia, bahkan senyum-senyum sendiri.

Hingga sekarang pun, saya membenci dia beberapa minggu yang lalu. Dan.. dengan gampangnya saya senyum_senyum lagi tiap ingat kenangan tentang dia. Sulit, benar-benar sulit. Meingatnya itu ada bercampur rasa. Perih, sakit, senang, lucu. Dan saya sadar, sisa-sisa kenangan dia sulit dihapus oleh sang hujan..

3/29/10

Arti Hujan

Saya itu cinta hujan. Buat saya, hujan itu punya arti yang sangat luar biasa. Tanpa hujan, rasanya bukan hidup :)

Saya benci musim kemarau. Panas matahari yang menyengat, keringat yang bercucuran, saya tidak suka semua itu.

Hujan itu menyenangkan. Kehadirannya seperti magnet pembangkit semangat buat saya. Suara rintiknya, kesejukan yang dibawanya, saya tidak pernah bosan dengan sensasi hujan. Saat saya merasa kesal, hujan dengan gampangnya melenyapkan peluh, kesal saya. Hujan itu ajaib buat saya. Hujan juga romantis :)


Sering ada yang bertanya pada saya, kenapa sih bisa suka hujan? Biasanya saya bingung mau jawab apa. Itu sama halnya jika ditanya mengapa saya bisa bersama dia yg sekarang bersama saya. Jawabannya cuma satu, "Saya bahagia."

Sebenarnya saya nggak suka main hujan. Tapi musim hujan membuat saya harus hujan-hujanan. Entah karena keadaan atau memang saya menginginkannya? Biar waktu yang menjawabnya :)

Dan saya akan selalu mencintai sang hujan..