Showing posts with label celoteh. Show all posts
Showing posts with label celoteh. Show all posts

6/10/15

Rindu Tanpa Kata Rindu


Bola matamu menyaksikan ragaku 
Seakan terkam, tangkap hatiku
Kamu hanya diam, tak berkata, pula tak bergeming
Kamu membeku, dingin, hening 
Nyatakah? 
Pandangan kosong tanpa emosi itu 
Sungguhkah? 
Semburat kekakuan raut wajahmu itu 
Tik tik.. jarum jam kian memutar1 tahun 5 bulan 5 hari 5 jam 5 menit 55 detik 
Itu lama kita tak lagi saling bertukar kata, juga isyarat 
Menghitungkah kamu seperti aku? 
Kamu masih memandang lurus ke arahku 
Ku coba melontarkan bunyi, satu huruf saja 
Asal kamu dengar, asal kami mengerti 
Detik berganti detik yang lain 
Aku masih mereka-reka 
Dan kamu tampak perlahan menjauh, 
Lambat-laun hanya terlihat seperti titik 
Lalu lenyap, hampa 
Kupaksa diri ini berdiri, bangun dari ingin semu 
Bolehkah aku meminta padamu? 
Satu saja: 
Bisakah sedetik saja kamu nyata di hadapan ku malam ini?



Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! :D Lebih dari setahun saya tidak menulis disini. Wah, kemana aja saya? Sok sibuk gitu ya kayaknya :D Tapi sebenarnya bukan karena sibuk atau apa sih. Mungkin karena saya sudah lama tidak bercerita soal catatan keseharian saya semacam dulu lagi, jadi kadang ada nemu yang mau diceritakan, eh nggak jadi-jadi ditulis. Ya, memang memulai sesuatu yang sudah lama tidak dikerjakan itu berat rasanya. Tapi percayalah kalau sudah dimulai, pasti akan lebih mudah :)

Meskipun tidak menulis disini, saya masih terkadang menulis di tempat lain loh, seperti di akun Kompasiana saya, juga di blog Kombi (Komunitas Ubi). Ayo coba baca deh blog Kombi, bagus-bagus loh tulisannya. Eh, bukan karena ada tulisan saya ya (tulisan saya cuma ada 3 biji dalam periode Juni 2014-Juni 2015), tapi karena memang disana tulisan-tulisannya bukan asal tulis, tapi melalui proses penyuntingan yang cukup panjang. Begitulah kalau mau membagikan tulisan berbobot ya.

Nah, balik lagi ke judul artikel saya kali ini, saya akan berbagi soal rindu. Coba deh perhatikan puisi saya di awal tulisan ini. Jadi saya pernah baca semacam giveaway gitu. Sudah lama sekali sih. Lombanya itu disuruh buat puisi tanpa kata rindu. Karena penasaran saya bisa nggak ya, lalu saya coba buat. Tapi saya nggak ikutan lombanya :D Dan tadi saya lihat-lihat tulisan di notebook saya, ketemu deh puisi ini. Karena saya sedang rindu blog ini, jadi saya rasa puisi rindu tanpa kata rindu itu sesuai untuk dibagi kali ini.

Ya, saya rindu blog ini. Ingat di awal bagaimana saya mulai menulis disini. Hanya tulisan-tulisan singkat tentang keseharian saya. Lama kemudian, saya menuliskan curahan hati saya, tentang sahabat, juga tentang beberapa "orang" yang sempat singgah menemani hari-hari saya.

Membaca blog ini seakan membuat saya melihat bagaimana saya tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang. Makin dewasa? Maunya sih dibilang gitu ya :D Kalau saya sih menilai saya lebih kuat dari sebelumnya. Kuat menghadapi luka, kuat menghadapi masalah, dan kuat menatap hari depan. 

Membaca blog ini juga membuat saya kembali mengingat orang-orang yang pernah mengukir kisah indah maupun luka bersama saya. Misalnya saya rindu pada kebersamaan dengan sahabat-sahabat SMP maupun SMA. Kami tak lagi menjalani hari-hari bersama-sama secara raga, tapi tentu saja kami masih sering bertukar cerita di kala rindu melanda. 

Lalu, bagaimana soal "orang-orang" yang sempat singgah dalam hari-hari saya dulu? Saya mensyukuri pertemuan saya dengan mereka. Jika ada orang-orang yang menyesali pertemuannya dengan seseorang karena akhirnya terluka, saya tidak. Saya bersyukur kenal mereka. Saya bersyukur pernah merasakan semua yang sudah saya alami hingga sekarang, termasuk kehadiran mereka dalam hidup saya. Kalau tidak bertemu mereka, saya tidak akan bisa seperti sekarang. Mungkin saya masih "lemah" seperti dulu.

Wah, rindu akan blog ini ternyata membuat saya menjejakkan langkah kembali ke masa lalu. Ah, rindu... 

Eh, tapi tak ada salahnya, bukan? Ya, rindu masa lampau itu memang tak salah, namun yang lebih penting adalah siap melangkah ke depan!

Jadi, selamat berindu ria dan selamat melangkah maju!

9/17/13

Kebahagiaan Orang Tua



“Rasanya waktu begitu cepat berlalu dan masa kanak-kanak kedua anakku menjadi kenangan yang tak terlupakan. Mereka sekarang telah menjadi gadis remaja.”

Spontan saja air mata saya menitik membaca status facebook mama, yang berbunyi seperti di atas. Haru bercampur rindu, begitulah lukisan perasaan saya ketika melihat untaian kata beliau. Ah, begitu tulusnya kasih orang tua kepada anak-anaknya. Mama memikirkan kami—saya dan adik saya—dan saya rasa bukan hanya sekali, namun selalu. Tak cuma mama, saya yakin papa pun juga menyayangi kami, anak-anaknya, sebegitu besarnya.

Saya kira semua anak di dunia selalu ingin membahagiakan orang tua mereka. Namun, terkadang cara mereka salah. Ada yang membahagiakan orang tuanya dengan mengejar kesuksesan, lalu melimpahi orang tua mereka dengan materi. Ada pula yang berpikir bahwa dengan menjadi” orang terpandang” dapat membahagiakan orang tua mereka. Saya tidak setuju dengan kedua contoh pemikiran itu. Bagi saya, bahagia orang tua adalah ketika melihat anak-anaknya bahagia.

Jika kamu bermimpi menjadi pekerja seni, lalu kemudian kamu berhasil menggapainya, orang tuamu akan berbahagia. Bila kamu ingin membuka usaha (wirausaha), lalu hal itu menjadi kenyataan, maka orang tua mu juga akan bergirang hati. Mereka akan merasa bahagia karena kamu berbahagia. Sederhana, bukan?

Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak setuju dengan panggilan hidup atau pekerjaan anak-anaknya? Mengapa mereka tidak berbahagia dengan pilihan anak-anaknya? Saya rasa mereka bukan tidak berbahagia.  Mereka hanya belum atau tidak mengerti bahwa ternyata pilihan itulah yang membuat anak-anak mereka berbahagia. Mereka cuma salah paham. Mereka berpikir bahwa ada pilihan lain yang dapat membuat anak-anak mereka lebih berbahagia. Namun, pada waktunya mereka juga akan tahu. Mereka akan mengerti bahwa dengan pilihan itulah anak-anak mereka berbahagia. Bahagia mereka tetaplah melihat anak-anak mereka bahagia.

Jadi, apa yang membuatmu bahagia? Banyak uang, lalu jadi konglomerat? Berhasil menjadi profesi yang kamu inginkan? Bisa keliling dunia?  Bertemu dengan idola? Ya, semua itu memang bisa membuat kita bahagia. Namun, menurut saya, bahagia harus lebih dari itu. Bahagia bukan hanya sekadar berujung untuk diri sendiri, namun juga orang lain.

Saya pribadi amat berbahagia jika dapat menjadi berkat bagi sesama, bahkan bangsa Indonesia, lewat pekerjaan saya nantinya. Bahagia teman-teman pun sebaiknya lebih dari kebahagiaan pribadi, bukan juga hanya untuk membahagiakan orang tua dan keluarga. Namun, bahagia yang mencakup lebih luas: sesama dan bangsa. Di sana, orang tua juga termasuk di dalamnya. Dan dengan bahagia yang berguna bagi sesama dan bangsa itulah, kita membahagiakan orang tua. Alangkah indah, bukan?

Jika bahagianya mama adalah melihat saya berbahagia, maka membahagiakan mama—dengan mengasihinya, menghormatinya, menghargainya, dan mentaatinya—juga termasuk dalam bahagia versi saya. Ya, sesederhana itulah kasih. Selamat membahagiakan orang tua kita :)

5/17/13

Rumah Baru


Dulu saat saya masih SMA, saya sangat menyukai kelas kami. Meskipun waktu itu sistem pembelajaran sudah berubah menjadi moving class—masing-masing mata pelajaran punya kelas khusus—kami tetap sering nongkrong di kelas kami, XII IPA 1.

Kami memang dikritik oleh beberapa kelas lain dan guru lain karena seolah-olah tidak adil kami memperoleh kelas dua sekaligus. Kelas kami yang semula laboratorium komputer itu dipindahkan menjadi kelas yang benar-benar ruangan belajar.  Tapi, kami masih rajin ngumpul-ngumpul di laboratorium komputer itu. Berat rasanya untuk pindah karena memang fasilitas disana menjanjikan :D Khususnya ada WiFi, komputer-komputer pula disana. Jadi kami yang seakan menjadi penguasa laboratorium itu :D Kami bebas datang kapan saja. Hari libur sekalipun haya untuk memanfaatkan fasilitas WiFi. Ya, ini karena wali kelas kami juga sekaligus penanggung jawab labor tersebut :D

Sepertinya hal itu yang menyebabkan kami seperti “diusir” dari kelas kami itu dan harus pindah ke kelas lain. Namun, tetap saja, kami punya akses yang mudah untuk masuk labor itu :D Begini penampakan kelas kami semula—labor komputer:

 Sepertinya ini saat sedang dalam pembelajaran Teknologi Informatika :D


Latihan untuk penampilan English Day :D

Semenjak kuliah, rasa-rasanya saya kehilangan kelas itu. Di bangku kuliah, tidak ada kelas yang benar-benar seperti rumah atau tempat sekadar beristirahat. Ya, saya merindukan kelas kami. Kelas dimana tempat kami rapat membicarakan hal-hal penting tentang kelas kami, nyanyi-nyanyi bareng, latihan untuk penampilan English Day. Tahun akhir di SMA benar-benar memberi kesan terindah dan takkan terlupakan bagi saya.

Namun ada yang berbeda di tahun akhir saya kuliah ini. Mulai semester ini saya merasa sudah punya “rumah” baru. Ya, kami sudah masuk laboratorium di bidang masing-masing. Disanalah “rumah” baru saya. Laboratorium Kimia Material Universitas Andalas Padang. Saya akan berbagi penampakan-penampakan “rumah” baru saya ini.

Sekilas gambaran labor kami :D


Mading yang berisi data kami beserta judul penelitian dan nama pembimbing. Keren kan :D


Sofa di labor kami :D

Salah satu poster di labor kami :D

Saya yang sedang serius bekerja :D


Ya, ini benar-benar serasa seperti kelas saat saya SMA—rumah. Labor ini adalah tempat beristirahat, tempat belajar, diskusi, bahkan tempat main ludo—permainan popular di labor kami untuk mengisi waktu luang :D Saya menyukai “rumah” baru saya ini :)

Saya berharap teman-teman di labor ini—keluarga baru ini juga tak kalah menyenangkannya dengan teman-teman SMA. Ya, benar. Rasanya tak bisa disbanding-bandingkan. Bukan. Sama sekali bukan membanding-bandingkan. Saya hanya ingin merasakan bahwa ini benar-benar “rumah”—tempat ternyaman saya saat di kampus, tempat saya melepas kepenatan dan tempat di saat saya sudah bosan di kamar kos.

Ini benar-benar “rumah” baru. Orang-orangnya pun baru saya kenal lebih dalam. Saya yang sulit lekas akrab dengan teman-teman ini memang susah. Ya, saya berharap disini saya dapat merasa nyaman dengan orang-orang baru dan lingkungan yang baru. Semoga saja.

Laboratorium Kimia Material jayalah!!! :D

5/13/13

Lagu Tentang Hujan


Entah sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai hujan. Suaranya, kesejukan yang dibawanya, membuat saya jatuh cinta. Kehadiran hujan membuat saya selalu tersenyum dan merasa bahagia. Ya, saya mencintai hujan.

Tapi, saya ingat bahwa saat itu saya masih siswi SMA. Anak-anak SMA punya kesukaan—ketertarikan—pada suatu hal. Contohnya, sahabat saya Rika. Dia menyukai bintang. Segala pernak-perniknya berlambangkan bintang. Gantungan kunci HP-nya berupa bintang, wallpaper HP-nya gambar bintang, layout Friendster-nya ada bintang-bintang, sampai bajunya pun ada simbol bintang-bintang. Lain lagi dengan Icha. Sahabat saya satu ini dulunya menyulai kupu-kupu. Sama seperti Rika, ada banyak barang yang dimilikinya bergambarkan kupu-kupu. Kalau Riri beda lagi, dia menyukai warna pink. Pernak-perniknya pun serba pink. Mungkin salah satu alasan saya sampai sekarang menyukai warna pink karena terpengaruh dengan Riri :D Dan saat mereka memilih ketertarikan mereka masing-masing, saya memilih menyukai hujan.

Tak berbeda dengan mereka, saya pun mulai menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hujan. Saya mulai suka menulis tentang hujan. Puisi hujan, cerita tentang hujan, hingga lagu tentang hujan. Kali ini saya akan bercerita khususnya tentang lagu yang berhubungan dengan hujan.

Waktu itu saya masih pecinta hujan yang amatir :D banyak hal yang tidak saya ketahui tentang hujan. Pokoknya saya mau dibilang pecinta hujan, titik! :D Mungkin seperti anak SMA kebanyakan yang mencari kesukaannya, identitasnya, saya pun begitu. Saya merasa bangga dengan menyebut diri saya pecinta hujan :D

Kelas 2 SMA, ujian praktek seni musik kami adalah menciptakan sebuah lagu dan menyanyikannya di depan guru seni. Waktu itu kami jadi sibuk belajar main alat musik untuk menciptakan lagu. Alat musik yang  popular di kelas kami adalah gitar. Hal ini dikarenakan hampir semua—hanya 1 atau dua orang—anak cowok di kelas kami yang tidak bisa memainkan gitar. Alhasil, tiap kelas kosong—guru tidak masuk karena berhalangan—kami bernyanyi bersama dengan diiringi gitar yang dimainkan anak cowok. Wah, memang masa-masa itu begitu indah dan tak akan bisa dilupakan :D Ya, kelas kami bisa dibilang kelas pecinta musik. Tidak cuma anak cowok, juga ada beberapa anak cewek yang bisa main gitar. Kami sekelas suka musik. Bahkan, saat ada perlombaan menyanyi antar kelas saat peringatan hari guru, kelas kami mendapat juara 1 :D Memang sih itu berkat salah seorang teman cowok yang memang berbakat musik. Hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Lagu-lagu yang kami bawakan saat lomba itu, dia yang mengaransemennya :D Wajar juga kami menang :D

Nah, sejak itu saya juga ikut belajar main gitar. Saya benar-benar belajar sendiri. Lihat-lihat teman yang main gitar di kelas, kemudian di rumah saya coba praktekkan. Akhirnya saya mulai tahu kunci-kunci gitar dasar. Dengan bermodalkan itu, saya menciptakan lagu tentang hujan. Ya, dulu saya tidak tahu lagu tentang hujan yang hits. Sampai-sampai seorang teman lelaki yang memperkenalkan lagu Hujan-nya Utopia pada saya. Saya langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu itu. Liriknya, musiknya, saya benar-benar menyukainya. Terlebih lagi karena tentang hujan. Seketika lagu Hujan-nya Utopia menjadi lagu favorit saya, yang saya putar berulang-ulang di HP :D

Selain lagu Hujan-nya Utopia, lagu tentang hujan yang kedua saya dengar waktu itu adalah lagu ciptaan teman lelaki saya itu. Dua baris liriknya saya letakkan sebagai header di blog saya ini :D Ya, saya juga suka sekali dengan lagu teman saya ini. Agaknya saya bersyukur malam sebelumnya kami bertengkar sampai akhirnya dia membuatkan saya lagu ini :D Padahal sebelumnya udah berminggu-minggu saya memaksanya menuliskan puisi tentang hujan sebagai kenang-kenangan sebelum kami tamat SMA. Waktu itu memang saya dan teman-teman sekelas berusaha memberi kenang-kenangan sebelum berpisah. Eh, akhirnya dia sendiri yang menyodorkan flashdisk yang berisikan lagu itu pada saya. Sepertinya itu salah satu bentuk permintaan maafnya :D Berikut lirik lagu ciptaan teman saya yang diberinya judul Hujan:

Hujan yang turun 
Perlahan merintik-rintik 
Ku duduk termangu 
Di jendela kamarku


Izinkanlah diriku
Mendengar rintikan tarian hujanmu 


Hanya hujan 
yang bisa mengisi kehampaanku 
Hanya hujan 
yang bisa membuatku kuat berdiri sendiri….

Sederhana tapi liriknya terasa nyata sekali. Ya, benar. Saat saya letih minta ampun, saat saya sedang kangen rumah atau sahabat-sahabat, hujan adalah obatnya. Hujan membuat saya merasa damai, tenang, dan nyaman. Menakjubkan.

Saya tidak tahu apa sahabat-sahabat saya sejak SMA masih menyukai hal-hal yang mereka sukai sewaktu SMA. Komunikasi kami masih baik. Namun, tiap bertemu kami sama sekali tidak menceritakan hal-hal kecil di masa lalu. Biasanya kami bercerita tentang bagaimana kuliah dan kabar teman-teman lainnya. Meskipun begitu, saya masih menyukai hujan hingga detik ini. Ya, saya masih mengagumi hujan dan rasa bahagia oleh karenanya. Masih dan mungkin akan terus menyukainya…. :)

5/5/13

Penelitian Ini


Ya, akhirnya saya sampai di titik ini. Sungguh tak terasa. Serasa berapa hari lalu saya berperan sebagai mahasiswa baru—pakai pita rambut warna kuning, pakai rok panjang, nyeletuk “Uni” atau “Uda” tiap berpapasan dengan senior, dan hal-hal lain semasa ospek setahun awal kuliah itu. Namun, sekarang status saya sudah berubah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Wah, dengar sebutan itu saja sudah berat rasanya -.-“

Seminar kolokium sudah, seminar proposal juga. Sekarang saya sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi. Setelah penelitian selesai, barulah menyusun skripsi. Selanjutnya, seminar hasil, lalu ujian kompre. Ckck. Ternyata perjalanan saya masih agak panjang >.<

“Sudah sampai mana?” Sepertinya itu pertanyaan yang paling sering ditanya oleh mama saya. Bukan mendorong untuk buru-buru lulus kuliah—tapi kalau bisa lebih cepat kenapa tidak—, saya pikir mama pasti ingin tahu sudah sejauh mana penelitian saya saat ini. Jujur saya bingung ingin menjelaskan bagaimana pada mama. Kenyataannya, saya merasa penelitian saya tidak ada perkembangannya. Masih coba-coba -.-“

Ceritanya begini… Saya dan teman-teman yang sama pembimbing I-nya, melakukan penelitian sesuai proyek dosen pembimbing ini. Masalahnya, ada banyak hal yang belum jelas menurut kami dalam proyek ini. Mulai dari prosedur kerja sampai perhitungan pembuatan larutannya. Ah, masih membingungkan. Meskipun kami telah menyelesaikan tahap try and error, tapi hasil penelitian yang kami peroleh beberapa minggu ini masih belum sesuai harapan. Ah -.-“

Masalah lainnya, ternyata judul skripsi saya dan teman-teman satu bimbingan ini berbeda loh dengan proyek dosen ini. Lah, saya jadi bingung maksud dosen ini apa >.< Masa beberapa minggu ini kami baru melakukan penelitian untuk proyek sang dosen. Sementara penelitian kami belum sama sekali dimulai. Ah, saya benar-benar stres setiap memikirkan ini -.-“ Namun, baru-baru ini saya mendengar bahwa dosen ini berniat menyamakan judul skripsi kami dengan proyeknya. Sehingga, apabila proyek sang dosen—yang sedang kami kerjakan ini—selesai, penelitian kami juga selesai. Tinggal menyusun skripsi. Tapi, itu juga belum pasti. Kami serasa masih digantung—tak jelas. Padahal laboratorium semakin sepi. Teman-teman satu laboratorium udah pada mau selesai dan sudah ada yang selesai penelitian. Ah, iri rasanya >.<

Penelitian ini benar-benar menyita pikiran saya, rasa-rasanya semangat menjadi surut mengingat pergumulan ini. Belum lagi fisik pun juga kena sita. Bayangkan? Saking melelahkannya penelitian itu, tiap pulang penellitian saya selalu langsung terkapar di kasur—tidur dari sore hingga malam. Parahnya, malamnya saya susah tidur tepat waktu. Alhasil, beberapa hari ini saya baru bisa tidur hingga hampir subuh. Menyiksa >.<

Tapi, saya sudah tak seegois sebelumnya kok. Sebelumnya saya benar-benar membiarkan tubuh ini begitu saja, mau habis ya habislah. Terserah saja lah. Ya, begitu pikir saya karena sudah terlampau lelah. Namun, saya sudah menyadari bahwa saya salah. Saya ingin menjaga tubuh pemberian-Nya ini. Jadi, meskipun mual dan tak enak, saya minum susu sebelum dan sesudah penelitian. Tak hanya itu, saya juga mengkonsumsi suplemen makanan agar tak “tewas” seperti sebelumnya. Ya, saya harus kuat!

Hal baiknya dari penelitian ini adalah kami melakukannya di Laboratorium Pengujian dan Penelitian PT Semen Padang. Alasan sang dosen membawa kami kesini adalah karena kelengkapan peralatannya, sehingga tak harus mengantri memakai alat seperti di laboratorium kampus saya. Meskipun disana kami tidak mempunyai ruangan— numpang—tapi memang penelitian jadi lebih cepat selesai. Tak hanya itu, kami juga bisa memperoleh wawasan dari karyawan yang bekerja disana. Amat-amati dan tanya-tanyai, itu juga beberapa aktivitas lain kami disana :D

Berikut foto-foto disana :
Sekilas gambaran Laboratorium Pengujian dan Penelitian PT Semen Padang


Saya (baju biru) dan Silvi (teman satu bimbingan) :D


Saya dan Rina (teman satu bimbingan) numpang foto di depan Dep. Rancang Bangun & Rekayasa PT Semen Padang :D




Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa lelahnya kami melakukan penelitian ini. Namun, saya ingin menikmati penelitian ini. Saya ingin berusaha menikmati setiap kelelahan ini, kemumetan pikiran oleh karena ini, dan juga pelatihan-pelatihan diri—melatih kesabaran, emosi. Ya, menikmati dan tidak menjadikannya hanya sekedar rutinitas. Saya mau melakukan yang terbaik dan dengan segenap hati dalam hal apapun, termasuk penelitian ini karena saya tahu bahwa Ia selalu menyertai dan sudah begitu baik pada saya. Jadi, tidak ada yang “terlalu” untuk diberikan pada-Nya, bukan? :) Hwaiting!^^

3/12/13

Memanajemeni Waktu



Siang hingga sore tadi akhirnya hujan mengguyur kota ini. Hati saya berteriak bahagia. Akhirnya, hujan yang saya nanti-nantikan hadir juga. Ya, dibalik kemumetan semua ini, saya sangat memerlukan hadirnya hujan, sang pemberi ketenangan, kesejukan, dan kenyamanan. Rasa-rasanya segala letih larut dibawa rintiknya. Sungguh menyenangkan :)

Beberapa minggu terakhir ini, saya merasa biasa-biasa saja. Bukan “biasa” dalam hal baik sih. Namun, ya biasa dalam maksud buruk. Apa-apa terasa biasa. Gak ada rasa senang. Gak ada rasa sedih. Gak ada rasa terharu. Biasa saja. Bahkan, saya merasa jenuh. Ya, benar. Saya bosan.

Kata seorang teman, hal ini wajar dialami mahasiswa tingkat akhir. Ya, mungkin itu salah satu alasan “biasa” atau kejenuhan ini. Tapi, saya rasa tidak hanya itu saja. Mungkin alasan lainnya adalah kurangnya waktu saya bersama-Nya. Bukan saya bilang bahwa Ia tidak bersama saya atau meninggalkan saya. Bukan, sama sekali bukan itu maksudnya. Namun, saya merasa kurang memberi waktu untuk bertemu dengan-Nya. Sungguh memalukan.

Jadi, waktu-waktu saya kemana? Saya habiskan untuk apa saja? Untuk ini:
-          Penelitian
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya saya dan rekan-rekan sepenelitian dapat memulai penelitian kami. Lamanya penantian ini sungguh membuat saya jadi ogah-ogahan. Bagaimana tidak? Saya kurang suka dengan sikap pembimbing kami yang tidak “jelas”. Janjinya tidak bisa dipegang. Kalau mau bertemu, gak ada waktu yang pasti kapannya. Ah, sungguh membuat kesal. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Mungkin juga ini salah satu cara-Nya agar saya belajar lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih menjaga emosi. Mungkin saja, bukan? Tapi, saya bersyukur kami melewati ketidakpastian itu hingga bisa memulai penelitian ini. Mekipun masih dalam proses try and error, tapi sudah ada yang kami kerjakan dan hasilkan. Berkali-kali error tidak jadi masalah.Ya, tetap aja harapannya jangan sampai error terus :D Semoga saja, penelitian ini berakhir baik. Kerumitan, kemumetan prosesnya, itu tak jadi soal buat saya. Kalau lancar-lancar aja, mungkin saya tak pernah belajar mengalami kesulitan.

-          Praktikum
Sudah jadi mahasiswa tingkat akhir, masih ada praktikum juga? :D Ya, saya tetap praktikum, tapi tidak sebagai praktikan lagi, melainkan sebagai asisten (kata teman saya, kami sudah naik tingkat ^^ ). Setelah menjalani peran baru ini, saya baru menyadari bahwa menjadi asisten tidak mudah, tidak santai-santai saja, dan tidak enak. Bayangkan? Sebelum praktikum dimulai, asisten terlebih dahulu praktikum (try and error). Hal ini sangat diperlukan agar saat praktikum tidak terjadi masalah. Selain itu, asisten juga harus belajar, bahkan harus lebih banyak belajar daripada praktikan. Kalau tidak, bagaimana mau membantu mereka memahami percobaan yang dilakukan? Ya, saya menjadi belajar kembali sejak jadi asisten. Hal lainnya, menjadi asisten juga membantu saya belajar sabar menghadapi berbagai karakter praktikan-praktikan :D Ya, meskipun lelahnya luar biasa (setiap pulang praktikum, saya langsung tepar di kasur), saya menikmati dan memang harus menikmati peran baru ini :)

-          Pelayanan
Pelayanan disini maksudnya adalah kegiatan-kegiatan rohani. Ya, saya mengambil bagian dalam suatu pelayanan mahasiswa. Jadi, ada tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Tugas-tugas itu tidak mudah dan cukup menyita waktu saya. Kadang juga membuat saya mumet dan cukup emosi. Tapi, ini juga termasuk dalam pembentukan karakter saya. Gak masalah. Saya juga menikmatinya :)


Ya, tiga hal tersebut begitu menyita waktu saya. Kelelahan, itu pasti. Mungkin itu juga yang membuat saya merasa jenuh. Kalau soal beban sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya rasa tidak seberapa. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang mengerti betul saya. Tiap mendengar keluhan teman-teman yang bilang orangtuanya nanyain kapan wisuda, saya hanya bisa tertawa. Beda sekali dengan mama dan papa. Beliau tidak menuntut saya wisuda cepat-cepat. Ya, pada waktunya juga akan wisuda kok. Saya senang, mereka begitu memahami apa yang saya alami :)

Kembali lagi pada kurangnya waktu saya bersama-Nya, saya mulai mengatur ulang waktu saya. Bahasa kerennya: belajar manajemen waktu :D Waktu saya untuk bersama-Nya dari jam berapa sampai jam berapa, waktu untuk membaca, menulis, belajar, dll mulai saya atur. Jadi, waktu untuk-Nya sama sekali bukan waktu sisa, namun waktu yang disisihkan―berkualitas. Ya, semoga saja upaya saya ini menghadiahkan sukacita yang dulu saya rasakan. Yap, saya rindu bersukacita dalam kelelahan, dalam kemumetan, dan dalam ketidakenakan. Berharap saya bisa menemukan sukacita itu lagi ^^ Hwaiting fany! :D   

12/13/12

Desember Ceria^^


Memasuki bulan Desember, menjalani bulan Desember, sungguh tak terasa bagi saya. Tiba-tiba saja rasanya bulan Desember tiba, serasa hanya beberapa jam, eh sudah tanggal belasan Desember. Wah, wah. Hal ini mungkin terjadi karena saya harus mengerjakan “sesuatu” dengan batas akhir akhir bulan ini. Jadi, bulan ini terasa lebih cepat berlalu dari bulan-bulan sebelumnya :D

Apa ya “sesuatu” itu? Ya, apalagi kalau bukan tugas akhir. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sepertinya pergumulannya tidak jauh berbeda. Kalau tidak proposal, ya skripsi. Ada mahasiswa tingkat akhir yang dulunya tenang-tenang saja, kemudian jadi galau. Ada mahasiswa tingkat akhir yang dulunya selalu senyum, eh jadinya bermuram durja :D Dan banyak pengaruh-pengaruh lain dari tugas akhir ini. Kalau saya pribadi, sepertinya mata saya jadi bengkak setelah begadang akhir-akhir ini. Pengaruh lainnya, saya jadi makin sering minum capucino tiap malam.. O.o

Sebelum semangat-semangatnya mengerjakan proposal ini, saya masih berkutat dengan ujian semester saya. Masalahnya ya itu, batas akhir proposal bertepatan dengan masa ujian. Awalnya saya berpikir bahwa menulis proposal itu tidak susah. Toh tinggal cari referensi, lalu kembangkan dengan pikiran kita. Ternyata oh ternyata saudara-saudari, sungguh menyulitkan! >.<

Mungkin karena otak saya dipaksa berpikir secara cepat padahal tak mampu :P Mungkin juga karena saya kelelahan. Yang pastinya, ternyata membuat suatu karya tulis ilmiah itu susah. Sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Rasanya berbeda dengan menulis catatan di blog ini atau menulis opini atau menulis cerpen, dan jenis tulisan lainnya. Menulis karya ilmiah memang masih baru buat saya. Baru di tahun akhir kuliah ini, saya bertemu dengan “beliau” loh >.<

Untung saja ada beberapa hari waktu senggang saya, menjelang ujian berikutnya. Saya berharap waktu ini bisa saya gunakan untuk menyelesaikan proposal ini. Semoga, semoga :D

Oh, ya, ada lagi pergumulan saya. Sebenarnya saya sudah mengikhlaskannya sih, tapi tetap aja harapan dibaliknya :D Ya, sepertinya saya tidak bisa merayakan natal bersama keluarga di rumah. Padahal awalnya saya sangat antusias menantikan bulan Desember agar bisa merayakan natal bersama keluarga, utuh. Namun, ternyata oh ternyata (lagi), seminar proposal bidang penelitian saya ini akan diadakan sekitar 2-3 hari setelah natal. Jadi, sangat tidak mungkin pulang ke rumah, kemudian balik lagi kesini keesokannya. Selain jauh dan melelahkan, biayanya juga cukup besar >.< Alhasil, saya rela natalan disini. Toh damai natal tidak berkurang dalam hati saya meskipun tak bersama keluarga terkasih :) 

Tapi, jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh di lubuk hati saya, saya masih mengharapkan adanya keajaiban ;) Saya berharap seminar saya diundur menjadi awal tahun depan, bukan bulan ini. Ada kemungkinan sih, tapi ya saya ingin menyerahkannya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia boleh berharap, tapi saya yakin bahwa Tuhan punya yang terbaik buat saya. Desember ini tak boleh menjadi Desember yang redup bagi saya, Pokoknya tetap Desember ini Desember ceria buat saya. Senang gak senang, enak gak enak, lelah, penat, mau berhenti, namun menjalani hidup dengan sukacita adalah suatu keharusan bagi saya :D Tetap semangat! ^^

11/25/12

Guru yang Melayani



Terima kasihku kuucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti

Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
kan kuingat selalu nasehat guruku
terima kasih kuucapkan





Sosok guru pada lirik lagu di atas merupakan sosok yang mulia, yang penuh kasih, dan lemah lembut. Selain itu, saya pribadi melihat sosok "guru yang melayani" dalam lirik lagu tersebut. Salah satu arti kata melayani dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah: “Membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yg diperlukan seseorang”. Guru yang melayani ialah guru yang mempersiapkan seluruh keperluan anak-anak didiknya untuk masa depan mereka. Tidakkah begitu mulia dan indah tugas seorang guru?

Di zaman ini, saya melihat berbagai variasi sosok guru. Ada guru yang lemah lembut. Ada sosok guru yang tegas. Ada sosok yang tidak peduli sama sekali terhadap anak dididknya. Ada guru yang sekedar menjalankan tugasnya mengajar, di luar itu dia tidak mau tahu. Ada sosok guru yang tak segan melakukan tindak kekerasan pada anak didiknya. Ada pula guru yang seperti saya katakan sebelumnya: guru yang melayani.

Guru favorit saya adalah mama. Bukan hanya karena dia adalah mama saya, tapi banyak hal lain yang menjadikan saya memfavoritkan beliau sebagai guru. Sedikit, saya ingin berkisah mengenai sosok guru yang melayani, yang saya temukan pada mama.

Tidak pernah mengeluh

Mama sudah mengajar sekitar 20 tahun lamanya. Selama masa tersebut, beliau sudah berkali-kali pindah tempat mengajar karena tugas. Kebanyakan tempat mama mengajar bukan di daerah perkotaan, melainkan daerah pedesaan. Sekitar 10 tahun mama mengajar di suatu desa, yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu jaraknya sekitar 30 menit dari rumah kami.

Setiap hari mama pulang-balik dari sekolah tersebut. Mama mengendarai motor sendirian. Jujur, saya sering khawatir jika mama pulang terlambat. Bagaimana tidak? Ada suatu jalan dari sekolah tersebut ke rumah kami, yang sangat sepi, bahkan sampai sekarang masih sepi. Sering terjadi perampokan di daerah tersebut. Tapi, syukurlah sampai sekarang mama belum pernah mengalami hal tersebut. Dan apakah mama pernah mengeluh akan hal itu? Jawabannya, sama sekali tidak! Ini salah satu alasan saya menjadikan mama sebagai guru favorit saya.

Memperhatikan dan Peduli

Mama sangat menyenangi profesinya sebagai guru. Itu bisa terlihat bagaimana beliau menceritakan anak-anak didiknya dengan raut muka bahagia. Saya juga masih teringat dengan kisah mama akan seorang anak didikan. Sepatu anak itu sudah rusak, tak layak dipakai lagi. Mama kemudian membelikannya sepatu baru. Memang bukan sepatu yang mahal, tapi itu adalah sepatu yang layak pakai. Waktu menyerahkan sepatu itu mama bilang,” Sepatu kamu sudah tidak layak pakai. Sudah buang saya. Pakai saja yang baru ini.” Tentu saja maksud mama baik, bukan untuk merendahkan anak tersebut. Namun, tahukah teman-teman apa yang ia katakan? Ia bilang,” Terima kasih, Buk. Tapi, jangan dibuang, Buk. Sepatu ini kan bisa dipakai untuk main bola nanti,” ujarnya sambil tersenyum. Jawaban yang membuat saya terharu ketika mendengar cerita mama. Jika dibandingkan dengan saya, ketinggalan zaman sedikit saja, sudah minta ganti :(

Senang memberi

Ya, itu sifat mama yang saya kagumi, mama bukan seperti beberapa guru di sekolah saya dulu. Mereka begitu bangganya ketika menerima hadiah dari wali murid, apalagi kalau itu barang bermerk terkenal dan dari kota besar pula. Mama tak pernah bangga jika diberi. Di sekolah tempat mama mengajar, siswa-siswinya memang kebanyakan bukan “orang berada”. Tapi, terkadang mama diberikan sayur-mayur, buah-buahan, dan hasil panen lainnya. Menariknya, mama selalu merasa berat untuk menerimanya. Sehingga, biasanya mama membayar yang diberikan murid-muridnya. “Anggap saja ini Ibu beli,” ujar Beliau. Indah, benar-benar indah kisah mama saya :) Jadi setiap mama menginginkan buah-buahan, sayur, beras atau hasil panen lainnya, mama membelinya, bukan memintanya.

Lain pula kebiasaan mama setiap beliau ulang tahun. Mama selalu menyiapkan makanan-makanan untuk anak murid dimana ia menjadi wali kelas. Sungguh berkebalikan dengan beberapa guru di sekolah saya. Kalau ulang tahun, malah minta anak muridnya membeli kue untuk beliau >.< Dan jika teman-teman melihat ekspresi mama saat membuat kue atau penganan lainnya untuk anak-anak didiknya, sungguh berseri-seri :) Sungguh, saya bangga memiliki mama!

Mama, sosok guru yang melayani tersebut, pastilah membekas di sanubari para anak didiknya. Beliau pernah bercerita, saat ban motornya bocor, ada seseorang yang menolongnya. Ternyata orang tersebut adalah anak muridnya dulu. Ya, mama mungkin melupakan beberapa anak muridnya, tapi anak muridnya tak pernah melupakannya. Didikan sang guru, bukanlah hanya angin lalu.

Guru adalah teladan. Seperti sebuah peribahasa: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Apa yang dilakukan guru, itulah yang diteladani murid-muridnya. Kalau gurunya sudah tak pantas diteladani, lalu muridnya akan menjadi apa?

Profil guru Indonesia di zaman ini, membuat saya secara pribadi geleng-geleng kepala. Lewat berita di televisi, saya melihat beberapa ulah guru yang tak pantas. Murid adalah generasi yang akan meneruskan Indonesia di masa akan datang. Guru ialah pendidik, yang mempengaruhi pembangunan karakter dan pengetahuan sang murid. Tidakkah tugas seorang guru begitu penting?

Memperingati Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November ini, saya ingin membangkitkan harapan-harapan kita akan sosok guru yang melayani. Guru yang tak kenal lelah, yang memberi penuh kasih, yang memperhatikan, yang menyenangi profesinya, bukan hanya sekedar untuk memperoleh upah. Semoga peringatan Hari Guru ini dapat memberikan semangat juang yang berlipat-lipat bagi para guru! Nusantara membutuhkan guru yang melayani, mempersiapkan generasi muda untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Mari kita wujudkan! 

11/21/12

Gelisah Ini

Perasaan ini sudah tak terbendung lagi
Hampir meledak, saking tak bisa ditahan
Bisa jadi menyakitkan, jika dibiarkan
Dan kamu ingin semuanya terlewati
Tanpa harus ada yang terkenai
Seperti helai daun yang dibawa sang angin
Kamu juga ingin perasaan itu pergi jauh
Melayang, pergi entah kemana
Bisa, pasti bisa
Hanya kamu sendiri yang mampu menjadikannya
Karena ini kamu, ini diri kamu
Hanya kamu yang mengerti…

Beberapa minggu ini, jujur saya sangat tidak merasa baikkan >.< Berkali-kali saya mencoba menyegarkan kembali otak ini dengan bersantai sejenak ke tempat yang dapat menghibur kejenuhan, seperti pantai. Ya, memandang air laut itu melegakan hati. Tenang dan damai. Apalagi saat saya melihat matahari terbenam. Wah, semakin membuat hati ini tenang, melihat kebesaran Tuhan melalui karya-karya-Nya :) 

Pantai Purus, Padang

Tak hanya sekali saya mengunjungi pantai beberapa minggu ini, namun sudah dua kali. Rasanya itupun tak cukup. Sekarang ingin sekali mengunjungi tempat itu lagi >.< Wah, tapi sebaiknya hari ini saya istirahat yang cukup saja yaa :D

Tahukah teman-teman apa yang saya rasakan beberapa minggu ini? Wah, sungguh tak terungkapkan lagi rasanya. Rasa gelisah, tak tenang, tak pernah bisa tidur nyenyak, makan pun tak lahap, dan berbagai kondisi kurang baik lainnya. Tiap jam, tiap hari, selalu saja memikirkan sesuatu yang sama. Apalagi kalau bukan “Seminar Kolokium" >.<

Kalau ada yang bingung apa itu seminar kolokium, saya akan menjelaskan sedikit. Jadi, seminar kolokium itu sama dengan seminar literatur. Mahasiswa, secara individu akan membahas suatu jurnal—jurnal internasional—yang akan diseminarkan di depan pembimbing, dua orang penguji, dan hadirin.

Jadwal seminar saya sudah berkali-kali diubah. Nama saya berkali-kali nongol di papan pengumuman. Awalnya nama saya muncul pada minggu pertama seminar kolokium. Kemudian dicoret dengan alasan berkas-berkas saya belum lengkap. Saya pun mengelus dada, penuh rasa syukur :D Lalu, pada minggu kedua seminar, nama saya keluar lagi. Namun, diundur kembali karena permintaan pembimbing. Lalu, nama saya muncul lagi sebagai pengganti teman yang berhalangan seminar. Kemudian, teman tersebut akhirnya jadi seminar, tidak berhalangan. Nama saya akhirnya dicoret lagi. Dan akhirnya, ada kepastian jadwal seminar saya. Ya, besok adalah jadwal seminar kolokium saya. Dan itu yang membuat saya segala perasaan ini campur-aduk >.<

Ini minggu ketiga sejak seminar kolokium di jurusan saya dimulai. Selama dua minggu yang telah berlalu, saya sudah melihat seminar beberapa teman. Hal ini semakin membuat saya gelisah. Bagaimana tidak? Saya membayangkan yang berdiri disana adalah saya, yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari penguji, yang kesulitan menjawabnya, yang hanya bisa terdiam. Wah, semakin banyak saya melihat seminar teman-teman, semakin deg-degan lah saya menjelang seminar >.<

Besok adalah hari H. Hari ini saya sudah cukup letih karena ada ujian suatu mata kuliah. Sepulangnya, saya kembali berlatih untuk mempresentasikan jurnal tersebut. Sepertinya sudah berkali-kali saya berlatih begini.. O.o Saya merasa tetap kurang maksimal. Semakin mendekati hari H, semakin kacaulah pikiran ini >.< Oleh karena itu, saya memikirkan untuk mencari solusinya. Mungkin dengan makan es krim saya bisa lebih baik. Atau dengan makan cokelat? :P Ya, pokoknya malam ini saya ingin mengistirahatkan pikiran dan fisik dulu. Hingga besok bisa tampil dengan segar :D

Apapun yang terjadi besok, saya sudah menyerahkan segala-Nya kepada Tuhan. Tapi, tentu saja saya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi-Nya. Ayo ayo ayooooo!!! EKSTRA SEMANGAT!!!^^

11/13/12

Dari Rasa Tidak Puas Menjadi Pahlawan

“Rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri”
Peribahasa di atas pastinya sudah seringkali kita dengar. Saya mengartikan peribahasa ini sebagai segala sesuatu yang dimiliki orang lain terlihat lebih baik daripada yang kita miliki. Ya, begitulah sifat manusia, yang sering tidak merasa puas. Sudah punya handphone BB (Blackberry), pengen punya android juga. Sudah punya BB dan android, pengen iPad pula. Itu pun masih merasa belum puas juga. Ya, begitulah sifat yang biasanya ada pada manusia :D
Menurut saya, rasa tidak puas, juga dapat menjadi hal yang baik. Contohnya, tidak merasa puas dengan nilai ujian yang diperoleh, sehingga seseorang menjadi lebih giat belajar. Contoh lainnya, seseorang yang merasa tidak puas dengan perubahan-perubahan karakternya, sehingga ia menjadi semakin semangat memperbaiki karakter-karakter lainnya yang kurang baik. Itu adalah contoh implikasi rasa tidak puas yang baik. Contoh lain yang ingin sekali saya ingar-bingarkan adalah rasa tidak puas akan keadaan bangsa Indonesia. Seandainya kita selalu merasa tidak puas dengan kondisi bangsa ini, pastilah kita akan semakin semangat berjuang untuk Indonesia yang lebih baik lagi.
Melihat kondisi Indonesia yang sekarang, jujur saya merasa sangat tidak puas. Hukum yang kurang ditegakkan, korupsi merajalela, angka kemiskinan yang masih sangat besar, angka kriminalitas yang tinggi, dan kondisi-kondisi buruk lainnya. Puaskah Anda melihat keadaan Indonesia yang sekarang ini? Jika Anda dan saya sepakat bahwa tidak puas melihat kondisi bangsa ini, apa yang bisa kita lakukan?
Baru-baru ini, kita memperingati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Mengingat jasa pahlawan yang berjuang mati-matian demi kemerdekaan Indonesia, saya menjadi semakin semangat lagi. Para pejuang tersebut tidak mementingkan “rumput mereka masing-masing”, melainkan “rumput kita” yaitu Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan kita di zaman ini, dimana yang utama adalah “saya” dan “semua tentang saya”. Ya, semangat kepahlawanan seperti itulah yang patut kita tiru untuk Indonesia.
Mungkin perjuangan kita di zaman ini tidak sampai berdarah-darah seperti para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Mungkin tidak sampai kehilangan nyawa. Tapi, mungkin saja kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan demi Indonesia. Dengan cara apapun kita berjuang, kita tetap berjuang demi Indonesia. Mungkin kita akan menjadi pejuang di bidang ilmu sains atau di bidang hukum atau politik atau bidang-bidang lainnya. Mari kita semua sama-sama berjuang demi masa depan Indonesia yang lebih baik lagi. Semoga saja rasa tidak puas kita akan Indonesia dapat mendorong kita menjadi pahlawan-pahlawan yang tak kenal lelah, tidak hanya memperhatikan “rumput sendiri”, namun melakukan semuanya demi kemajuan bangsa ini. Semoga :)

Selamat memperingati hari pahlawan^^

10/16/12

Belajar Peka pada Indonesia

Perbedaan sifat yang paling mencolok antara pria dan wanita, menurut saya adalah soal kepekaan. Pria sering tidak peka pada perasaan wanita. Pria menggunakan logikanya, sehingga seringkali wanita merasa bahwa pria tidak memahami perasaan wanita. Ujung-ujungnya wanita jadi kesal sendiri. Ya, saya paham benar perasaan itu. Saya pernah mengalami itu.
Tatkala sendirian, saya pernah memikirkannya. Mungkin pria tidak seperti yang dipikirkan wanita selama ini. Mungkin tidak sebegitunya. Mungkin mereka pernah mencoba memahami perasaan wanita, mencoba untuk peka, namun mungkin akhirnya mereka lelah sendiri karena wanita selalu merasa tidak dimengerti. Seandainya saya jadi pria, sepertinya saya akan pusing tujuh keliling menghadapi wanita karena saya begitu tahu bagaimana sifat wanita, tentu saja karena saya seorang wanita. Tidak semua wanita? Ya, memang. Tapi, kebanyakan wanita seperti itu. Kebanyakan.
Saya sering menyesal atas hal yang telah saya lakukan, setelah saya menyadarinya. Terkadang wanita bahkan sama sekali tidak berusaha memahami perasaan pria. Bahkan, wanita yang sebenarnya lebih sulit memahami pria. Kalau sudah paham pun, tetap sulit untuk menerimanya. Wanita sekali ya :D
Akhir-akhir ini, saya mulai berpikir dalam ranah yang lebih luas. Manusia. Kalau dipikir-pikir, kepekaan saya terhadap sesama bisa dikatakan sangat rendah. Sepertinya saya kurang peka karena tingginya keegoisan saya. Sehingga, segala sesuatunya tentang saya. Ya, saya sadar akan sifat buruk saya itu. Namun, saya sedang dan masih mencari segala cara untuk memperbaiki sifat buruk ini. Saya merasa kepekaan saya sudah lebih baik akhir-akhir ini. Saya yang jarang memikirkan sesama, jadi sering melamun sendiri, memikirkan masalah-masalah yang berhubungan dengan sesama, juga tentang bangsa ini. Wah :O Wah, saya sendiri takjub menyadari saya yang seperti ini. Kok bisa ya? :O
Baru-baru ini banyak hal yang membuat saya “gemas” dan “sesak” melihat keadaan sekitar saya. Ya, saya bersyukur bisa mengenal teman-teman kampus lebih dekat. Itu pun baru-baru ini, di tahun akhir saya kuliah. Tapi, saya tetap mau bersyukur. Dari mereka saya dapat membuka mata lebih lebar. Ternyata begini ya kondisi di sekitar saya :O Saya ingin teriak. Tapi, tak tahu kepada siapa dan siapa yang mau mendengar. Hhhhhhhh.
Ya, namun, saya tahu bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu hal di dunia ini. Tuhan pasti campur tangan. Mungkin saya hanya bisa mendiskusikannya pada teman-teman dan menuliskannya. Tapi, Dia, Tuhan, Maha Besar dan berkuasa atas segala hal di surga maupun di bumi. Sementara itu, saya mau tetap berharap untuk menemukan jalan keluarnya.
Seandainya saja semakin banyak org Indonesia yang peka dengan kondisi bangsa ini. Tak perlu jauh-jauh soal korupsi dan politik di pemerintahan sana, namun dapat dimulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Di sekitar kampus, juga bisa di sekitar tempat tinggal kita Saya rasa, kita perlu untuk tidak hanya melihat siapa saya dan nanti saya akan bagaimana. Tapi, mulai memikirkan, bangsa saya ini akan jadi seperti apa nantinya. Kita belajar peka. Bukan hanya pada diri sendiri, atau keluarga, atau kekasih, atau sahabat, atau orang-orang terdekat, namun lebih luas lagi, peka pada bangsa Indonesia ini. Bukankah disini kita lahir, tumbuh, dan berkarya? Mari kita belajar lebih peka pada bangsa Indonesia^^ 

8/27/12

Sadar dan Tidak Sadar


Baru-baru ini saya terlibat obrolan yang menarik bersama seseorang teman ngobrol. Waktu itu dia memulai percakapan kami dengan pertanyaan ini:

“Pernah nggak kamu merasa sedih sekaligus kesepian? Begitu dalam sampai seolah-olah dada terasa ngilu?”

Awalnya saya hanya bisa tertegun membaca pesan singkat itu. Yang ada dalam pikiran saya. Ya, jelas. Jelas sekali saya pernah merasakan perasaan itu. Yang buat saya tertegun adalah perasaan seperti itu begitu seringnya  saya rasakan ‘dulu’.  Ya, itu benar-benar saya yang dulu. Perasaan itu tidak salah, namun tindak lanjut saya akibat perasaan itu yang salah. Kalau bahasa gaulnya, saya “galau” karena perasaan itu. Ujung-ujungnya, ya orang lain yang kena. Perasaan itu membuat saya menjadi seperti anak-anak,  menyalahkan orang lain, merepotkan orang lain, bahkan membuat orang lain kesal karena dituduh yang tidak-tidak.

Kemudian, teman mengobrol saya itu bertanya kembali,”Apa penyebabnya itu ya?”

Saya agak bingung menjawab karena sebenarnya saya pun tidak mengerti bagaimana perasaan seperti itu bisa ada. Akhirnya, kami sepakat menjawab bahwa perasaan tersebut adalah perasaan khas remaja. Dia bilang:

“Kayaknya udah alami deh. Saat kita tambah tua, kita tambah banyak pengalaman. Dari pengalaman itu pola pikir kita berubah. Dengan pola pikir yang beda, kita menghadapi situasi dengan berbeda juga. Kita tidak begitu sentimentil lagi kalau kesepian.”

Saya menambahkan pernyataan dia tersebut. “Tapi, perubahan itu tergantung orang-orang sekitar juga ya. Jika orang-orang sekitar kita/lingkungan kita memaksa kita untuk dewasa, lama-kelamaan kita juga akan menjadi dewasa. Mungkin sifat manja saya karena dulunya saya berada di sekitar orang-orang yang memanjakan saya ya. Tapi, sejak saya mengenal seseorang yang memaksa saya untuk menjadi dewasa, saya jadi harus dewasa. Bukan begitu?”

Lalu, dia bertanya apa dia termasuk dalam kategori orang-orang sekitar yang memanjakan saya atau bukan. Saya menjawab, iya.

“Iya ya? tanyanya. “Berarti orang manjain itu mungkin sebenarnya nggak sadar lagi manjain. Dia cuma ingin menunjukkan kasihnya.”

Saya pikir, benar juga ya. Nggak sadar.  Terkadang saya nggak suka kalau orang-orang di sekitar saya mulai manjain saya. Kayak sibuk nanyain udah makan atau belum berkali-kali.  Tapi, sepertinya mereka bukan bermaksud memanjakan saya. Mungkin seperti pendapat teman saya ini, alasannya karena mereka mengasihi saya.

Kemudian, teman ngobrol saya menyatakan kesimpulan pendapatnya,” Saya tahu bedanya. Kalau seseorang mengasihi dan ingin yang dia kasihi itu mandiri, itu dia lakukan dengan sadar. Kalau yang mengasihi, terus manjain yang dikasihinya, itu dia manjainnya nggak sadar.”

Ya, pikiran saya mulai terbuka dengan kesimpulan teman mengobrol saya ini. Poinnya adalah sama-sama mengasihi, yang bedanya adalah sadar atau tidak sadarnya. Memang sih memanjakan orang yang dikasihi berlebihan itu tidak baik, misalnya seperti orang tua yang mengasihi anaknya sampai-sampai apa saja yang anaknya inginkan, selalu dipenuhinya. Sehingga, anak itu tidak terbiasa mandiri dan melakukan segala sesuatu semaunya saja. Ya, itu tidak baik. Tapi, tidak ada salahnya jika orang tua tersebut sesekali memanjakan anaknya sesuai keinginan anaknya. Misalnya kalau anaknya minta dibelikan es krim, minta jalan-jalan ke luar kota, dll. Sesekali toh, jangan sering-sering :D

Jadi, kalau sesekali saya minta dimanjain, minta dianterin makanan, minta dianterin sesuatu barang yang ingin dipinjam, minta diantarin ke kos, minta dijagain motor, minta ditemanin SMS, minta ditemenin makan, minta ditemenin pergi, nggak apa-apa juga kan? Kan sesekali :D

Ya, semoga saja kita tidak salah cara dalam mengasihi dan dikasihi. Menurut saya, lebih baik kita sadar bahwa kita ingin orang yang kita kasihi jadi mandiri. Tapi, manusia sering kali melakukan hal tanpa ia sadari juga ya. Ya, setidaknya , tidak dilakukan berlebihan J Selamat mengasihi dan dikasihi^^

Terus Menulis


Sudah begitu lama saya tidak menulis di blog ini. Ya, memang beberapa waktu lalu saya kembali menulis tentang kisah saya selama masa KKN. Namun, selain itu, saya tidak tahu harus menceritakan apa. Mungkin itu alasan saya sudah begitu lama tidak menulis. Mungkin karena tidak ada niat. Mungkin karena kesibukan-kesibukan saya. Atau mungkin saja karena yang alami biasa-biasa saja, sehingga tak ada yang pantas diceritakan. Atau kemungkinan terakhir, apa karena kamu tidak lagi berada di sisi saya ya sehingga saya kehilangan semangat untuk menulis dan bercerita? Ya, biasanya saya senang menulis apa yang saya rasa. Saya suka menulis tentang kamu. Saya rasa, kamu salah satu alasan saya semangat untuk menuliskan curahan hati saya di blog ini. Ya, sepertinya kamu alasan utama atas segala halnya. Tapi, cukup tentang kamu. Sekarang saya kembali menemukan nikmatnya menulis :)

Beberapa waktu lalu, saya membaca beberapa postingan blog saya yang dulu-dulu. Benar,ternyata saya menyukai setiap posting yang ada tentang kamu. Hei, hei. Kok tentang kamu lagi. Cukup, cukup. Nah, setelah membaca semua postingan itu, saya merasakan kembali semangat menulis. Ternyata memang begitu menyenangkannya bisa menuangkan seluruh yang saya rasa dalam bentuk tulisan. Ya, saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Saya juga orang yang sulit untuk beramah-tamah dengan sesama. Saya tipe yang tidak suka hal seperti itu. Sampai-sampai, untuk mengatakan ‘terima kasih’ saja rasanya berat sekali. Aneh ya? Makanya, tulisan sangat berharga bagi saya. Ada begitu banyak kata yang tidak bisa saya ucapkan. Dengan tulisan, saya bisa mengungkapkan semuanya. Lengkap, jelas. Semuanya. Tanpa perlu takut atau segan mengungkapkannya. Huahh, benar-benar lega :D

Sebenarnya saya lupa sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai  dunia tulis-menulis. Dulu semasa SMP, saya suka menulis puisi. Kalau dibaca puisi saya saat masih SMP, wah saya jadi malu >.< Sepertinya benar-benar kacau :D Asal-asalan saja. Lalu, seingat saya, saya mulai suka menulis novel remaja/teenlit saat SMA. Novel Dealova-nya Dian Nuranindya menginspirasi saya untuk bercita-cita menjadi penulis novel. Saya mulai menulis novel. Saya menyelesaikan novel teenlit pertama dengan banyak halaman 68. Wah, saya jadi senyum-senyum sendiri mengingat itu :D Bayangkan, 68 halaman, isinya percakapan yang nggak jelas pula. Singkat-singkat dan garing pula dialognya. Yang penting halamannya banyak euyy. Hahaha :D saya kasih deh,sepotong  percakapan ngawur novel pertama saya :

“Panas banget nih mienya!” ucap Alvin sambil megap-megap.
“Nggak penting panas atau enggaknya. Yang penting makan!” kata Della.
“Hmm… iya deh!”
“Jadi nggak minta maaf dulu ama gue?”
“Hah! Minta maaf, apaan?”
“Enak aja loe! Loe udah buat kaki gue sakit, tau!”
“Kan loe yang mau turun!”
“Lagian loe yang nggak ikhlas!”
“Emang!”
“Dasar cowok sok!”
“Bukannya sok, tapi emang benar!”
“Cerewet!!!”
“Elo tuh yang cerewet! Dasar cewek!!!”
“Loe ngehina cewek?? GUE NGGAK TERIMA!!!”
“Eh,eh, diam donk! Dari tadi, temen-temen loe ngelihatin kita! Sekarang, mereka tambah ngelihatin kita, cerewet!”
“Itu semua gara-gara loe!!!”      

*Ngakak bentar

Beneran, sampai sakit perut rasanya ngakak baca novel pertama saya dulu. Maksudnya, mau kayak novel Dealova, yang ada berantemnya Kara dan Dira. Eh, jadinya malah kayak gitu. Maksa banget :D

Tidak berhenti sampai disitu, saya menulis beberapa novel lainnya. genre-nya sama, teenlit. Dulu, saya pernah bermimpi menjadi penulis novel terkenal, setidaknya memiliki novel yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan. Bahkan, saya pernah memimpikan seandainya novel saya diangkat menjadi film, seperti Dealova :D Sebenarnya impian begitu tak jadi soal. Yang lucunya, novel yang saya tulis semasa SMA itu novel yang dangkal sekali ceritanya, kalau saya baca sekarang. Padahal dulu  rasanya saya sudah begitu puas dengan novel-novel itu >.< Tapi, saya sangat bersyukur karena masih memiliki dokumen-dokumen novel tersebut meskipun ada beberapa yang hilang karena  sudah beberapa kali pindah komputer, sampai akhirnya masih tersimpan di laptop saya tercinta ini. Dan ternyata semangat saya untuk memulai novel yang baru tidak sebanding dengan semangat menyelesaikannya. Cukup banyak novel-novel lama saya yang tidak selesai. Namun, syukurlah masih ada kenangan-kenangan yang tidak hilang :)

Dalam masa peralihan dari siswi SMA menjadi mahasiswi, saya masih menulis. Saya menulis di catatan dalam akun facebook saya. Dan akhirnya, sampailah saya ke blog ini. Sebenarnya saya sudah cukup kenal blog. Beberapa teman saya sudah memilikinya. Bahkan, saya pernah menjadi diminta untuk posting suatu cerpen ke blog teman. Namun, saya belum niat memiliki blog sendiri. saya takut tidak bisa mengurusnya. Pikiran saya berubah saat saya begitu tertarik dengan suatu blog. Tulisan-tulisannya bagus sekali. Saya jadi semangat menulis di blog dan mulailah saya posting pertama. Setelah dilihat-lihat, tulisan saya di awal blogging itu polos sekali ya :D Sekarang sudah lumayanlah. Hehe :D

Ya, begitulah kisah saya dan tulisan saya. Yang tidak berubah dari tulisan saya.. hmm.. apa ya? Mungkin tentang hujan. Sedari SMA saya mulai menyukai hujan dan sampai sekarang. Meskipun perasaan saya sudah berpindah-pindah dari orang itu, orang ini, orang yang lain lagi, tapi perasaan saya akan hujan belum berubah. Saya masih menyukai suaranya, tetesnya, dinginnya. Ya, masih.

Dengan tulisan ini, saya ingin mencoba semakin giat menulis. Maunya sih sebulan sekali bisa nulis di blog ini. Ya, semoga saja saya tetap semangat ya karena sebaiknya menulis bukan karena mood, tapi karena saya benar-benar menyukai menulis. Mari mulai menulis, tetap menulis, dan terus menulis! Hwaiting!^^