Showing posts with label curahan rasa. Show all posts
Showing posts with label curahan rasa. Show all posts

6/10/15

Rindu Tanpa Kata Rindu


Bola matamu menyaksikan ragaku 
Seakan terkam, tangkap hatiku
Kamu hanya diam, tak berkata, pula tak bergeming
Kamu membeku, dingin, hening 
Nyatakah? 
Pandangan kosong tanpa emosi itu 
Sungguhkah? 
Semburat kekakuan raut wajahmu itu 
Tik tik.. jarum jam kian memutar1 tahun 5 bulan 5 hari 5 jam 5 menit 55 detik 
Itu lama kita tak lagi saling bertukar kata, juga isyarat 
Menghitungkah kamu seperti aku? 
Kamu masih memandang lurus ke arahku 
Ku coba melontarkan bunyi, satu huruf saja 
Asal kamu dengar, asal kami mengerti 
Detik berganti detik yang lain 
Aku masih mereka-reka 
Dan kamu tampak perlahan menjauh, 
Lambat-laun hanya terlihat seperti titik 
Lalu lenyap, hampa 
Kupaksa diri ini berdiri, bangun dari ingin semu 
Bolehkah aku meminta padamu? 
Satu saja: 
Bisakah sedetik saja kamu nyata di hadapan ku malam ini?



Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! :D Lebih dari setahun saya tidak menulis disini. Wah, kemana aja saya? Sok sibuk gitu ya kayaknya :D Tapi sebenarnya bukan karena sibuk atau apa sih. Mungkin karena saya sudah lama tidak bercerita soal catatan keseharian saya semacam dulu lagi, jadi kadang ada nemu yang mau diceritakan, eh nggak jadi-jadi ditulis. Ya, memang memulai sesuatu yang sudah lama tidak dikerjakan itu berat rasanya. Tapi percayalah kalau sudah dimulai, pasti akan lebih mudah :)

Meskipun tidak menulis disini, saya masih terkadang menulis di tempat lain loh, seperti di akun Kompasiana saya, juga di blog Kombi (Komunitas Ubi). Ayo coba baca deh blog Kombi, bagus-bagus loh tulisannya. Eh, bukan karena ada tulisan saya ya (tulisan saya cuma ada 3 biji dalam periode Juni 2014-Juni 2015), tapi karena memang disana tulisan-tulisannya bukan asal tulis, tapi melalui proses penyuntingan yang cukup panjang. Begitulah kalau mau membagikan tulisan berbobot ya.

Nah, balik lagi ke judul artikel saya kali ini, saya akan berbagi soal rindu. Coba deh perhatikan puisi saya di awal tulisan ini. Jadi saya pernah baca semacam giveaway gitu. Sudah lama sekali sih. Lombanya itu disuruh buat puisi tanpa kata rindu. Karena penasaran saya bisa nggak ya, lalu saya coba buat. Tapi saya nggak ikutan lombanya :D Dan tadi saya lihat-lihat tulisan di notebook saya, ketemu deh puisi ini. Karena saya sedang rindu blog ini, jadi saya rasa puisi rindu tanpa kata rindu itu sesuai untuk dibagi kali ini.

Ya, saya rindu blog ini. Ingat di awal bagaimana saya mulai menulis disini. Hanya tulisan-tulisan singkat tentang keseharian saya. Lama kemudian, saya menuliskan curahan hati saya, tentang sahabat, juga tentang beberapa "orang" yang sempat singgah menemani hari-hari saya.

Membaca blog ini seakan membuat saya melihat bagaimana saya tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang. Makin dewasa? Maunya sih dibilang gitu ya :D Kalau saya sih menilai saya lebih kuat dari sebelumnya. Kuat menghadapi luka, kuat menghadapi masalah, dan kuat menatap hari depan. 

Membaca blog ini juga membuat saya kembali mengingat orang-orang yang pernah mengukir kisah indah maupun luka bersama saya. Misalnya saya rindu pada kebersamaan dengan sahabat-sahabat SMP maupun SMA. Kami tak lagi menjalani hari-hari bersama-sama secara raga, tapi tentu saja kami masih sering bertukar cerita di kala rindu melanda. 

Lalu, bagaimana soal "orang-orang" yang sempat singgah dalam hari-hari saya dulu? Saya mensyukuri pertemuan saya dengan mereka. Jika ada orang-orang yang menyesali pertemuannya dengan seseorang karena akhirnya terluka, saya tidak. Saya bersyukur kenal mereka. Saya bersyukur pernah merasakan semua yang sudah saya alami hingga sekarang, termasuk kehadiran mereka dalam hidup saya. Kalau tidak bertemu mereka, saya tidak akan bisa seperti sekarang. Mungkin saya masih "lemah" seperti dulu.

Wah, rindu akan blog ini ternyata membuat saya menjejakkan langkah kembali ke masa lalu. Ah, rindu... 

Eh, tapi tak ada salahnya, bukan? Ya, rindu masa lampau itu memang tak salah, namun yang lebih penting adalah siap melangkah ke depan!

Jadi, selamat berindu ria dan selamat melangkah maju!

5/13/13

Lagu Tentang Hujan


Entah sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai hujan. Suaranya, kesejukan yang dibawanya, membuat saya jatuh cinta. Kehadiran hujan membuat saya selalu tersenyum dan merasa bahagia. Ya, saya mencintai hujan.

Tapi, saya ingat bahwa saat itu saya masih siswi SMA. Anak-anak SMA punya kesukaan—ketertarikan—pada suatu hal. Contohnya, sahabat saya Rika. Dia menyukai bintang. Segala pernak-perniknya berlambangkan bintang. Gantungan kunci HP-nya berupa bintang, wallpaper HP-nya gambar bintang, layout Friendster-nya ada bintang-bintang, sampai bajunya pun ada simbol bintang-bintang. Lain lagi dengan Icha. Sahabat saya satu ini dulunya menyulai kupu-kupu. Sama seperti Rika, ada banyak barang yang dimilikinya bergambarkan kupu-kupu. Kalau Riri beda lagi, dia menyukai warna pink. Pernak-perniknya pun serba pink. Mungkin salah satu alasan saya sampai sekarang menyukai warna pink karena terpengaruh dengan Riri :D Dan saat mereka memilih ketertarikan mereka masing-masing, saya memilih menyukai hujan.

Tak berbeda dengan mereka, saya pun mulai menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hujan. Saya mulai suka menulis tentang hujan. Puisi hujan, cerita tentang hujan, hingga lagu tentang hujan. Kali ini saya akan bercerita khususnya tentang lagu yang berhubungan dengan hujan.

Waktu itu saya masih pecinta hujan yang amatir :D banyak hal yang tidak saya ketahui tentang hujan. Pokoknya saya mau dibilang pecinta hujan, titik! :D Mungkin seperti anak SMA kebanyakan yang mencari kesukaannya, identitasnya, saya pun begitu. Saya merasa bangga dengan menyebut diri saya pecinta hujan :D

Kelas 2 SMA, ujian praktek seni musik kami adalah menciptakan sebuah lagu dan menyanyikannya di depan guru seni. Waktu itu kami jadi sibuk belajar main alat musik untuk menciptakan lagu. Alat musik yang  popular di kelas kami adalah gitar. Hal ini dikarenakan hampir semua—hanya 1 atau dua orang—anak cowok di kelas kami yang tidak bisa memainkan gitar. Alhasil, tiap kelas kosong—guru tidak masuk karena berhalangan—kami bernyanyi bersama dengan diiringi gitar yang dimainkan anak cowok. Wah, memang masa-masa itu begitu indah dan tak akan bisa dilupakan :D Ya, kelas kami bisa dibilang kelas pecinta musik. Tidak cuma anak cowok, juga ada beberapa anak cewek yang bisa main gitar. Kami sekelas suka musik. Bahkan, saat ada perlombaan menyanyi antar kelas saat peringatan hari guru, kelas kami mendapat juara 1 :D Memang sih itu berkat salah seorang teman cowok yang memang berbakat musik. Hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Lagu-lagu yang kami bawakan saat lomba itu, dia yang mengaransemennya :D Wajar juga kami menang :D

Nah, sejak itu saya juga ikut belajar main gitar. Saya benar-benar belajar sendiri. Lihat-lihat teman yang main gitar di kelas, kemudian di rumah saya coba praktekkan. Akhirnya saya mulai tahu kunci-kunci gitar dasar. Dengan bermodalkan itu, saya menciptakan lagu tentang hujan. Ya, dulu saya tidak tahu lagu tentang hujan yang hits. Sampai-sampai seorang teman lelaki yang memperkenalkan lagu Hujan-nya Utopia pada saya. Saya langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu itu. Liriknya, musiknya, saya benar-benar menyukainya. Terlebih lagi karena tentang hujan. Seketika lagu Hujan-nya Utopia menjadi lagu favorit saya, yang saya putar berulang-ulang di HP :D

Selain lagu Hujan-nya Utopia, lagu tentang hujan yang kedua saya dengar waktu itu adalah lagu ciptaan teman lelaki saya itu. Dua baris liriknya saya letakkan sebagai header di blog saya ini :D Ya, saya juga suka sekali dengan lagu teman saya ini. Agaknya saya bersyukur malam sebelumnya kami bertengkar sampai akhirnya dia membuatkan saya lagu ini :D Padahal sebelumnya udah berminggu-minggu saya memaksanya menuliskan puisi tentang hujan sebagai kenang-kenangan sebelum kami tamat SMA. Waktu itu memang saya dan teman-teman sekelas berusaha memberi kenang-kenangan sebelum berpisah. Eh, akhirnya dia sendiri yang menyodorkan flashdisk yang berisikan lagu itu pada saya. Sepertinya itu salah satu bentuk permintaan maafnya :D Berikut lirik lagu ciptaan teman saya yang diberinya judul Hujan:

Hujan yang turun 
Perlahan merintik-rintik 
Ku duduk termangu 
Di jendela kamarku


Izinkanlah diriku
Mendengar rintikan tarian hujanmu 


Hanya hujan 
yang bisa mengisi kehampaanku 
Hanya hujan 
yang bisa membuatku kuat berdiri sendiri….

Sederhana tapi liriknya terasa nyata sekali. Ya, benar. Saat saya letih minta ampun, saat saya sedang kangen rumah atau sahabat-sahabat, hujan adalah obatnya. Hujan membuat saya merasa damai, tenang, dan nyaman. Menakjubkan.

Saya tidak tahu apa sahabat-sahabat saya sejak SMA masih menyukai hal-hal yang mereka sukai sewaktu SMA. Komunikasi kami masih baik. Namun, tiap bertemu kami sama sekali tidak menceritakan hal-hal kecil di masa lalu. Biasanya kami bercerita tentang bagaimana kuliah dan kabar teman-teman lainnya. Meskipun begitu, saya masih menyukai hujan hingga detik ini. Ya, saya masih mengagumi hujan dan rasa bahagia oleh karenanya. Masih dan mungkin akan terus menyukainya…. :)

5/5/13

Penelitian Ini


Ya, akhirnya saya sampai di titik ini. Sungguh tak terasa. Serasa berapa hari lalu saya berperan sebagai mahasiswa baru—pakai pita rambut warna kuning, pakai rok panjang, nyeletuk “Uni” atau “Uda” tiap berpapasan dengan senior, dan hal-hal lain semasa ospek setahun awal kuliah itu. Namun, sekarang status saya sudah berubah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Wah, dengar sebutan itu saja sudah berat rasanya -.-“

Seminar kolokium sudah, seminar proposal juga. Sekarang saya sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi. Setelah penelitian selesai, barulah menyusun skripsi. Selanjutnya, seminar hasil, lalu ujian kompre. Ckck. Ternyata perjalanan saya masih agak panjang >.<

“Sudah sampai mana?” Sepertinya itu pertanyaan yang paling sering ditanya oleh mama saya. Bukan mendorong untuk buru-buru lulus kuliah—tapi kalau bisa lebih cepat kenapa tidak—, saya pikir mama pasti ingin tahu sudah sejauh mana penelitian saya saat ini. Jujur saya bingung ingin menjelaskan bagaimana pada mama. Kenyataannya, saya merasa penelitian saya tidak ada perkembangannya. Masih coba-coba -.-“

Ceritanya begini… Saya dan teman-teman yang sama pembimbing I-nya, melakukan penelitian sesuai proyek dosen pembimbing ini. Masalahnya, ada banyak hal yang belum jelas menurut kami dalam proyek ini. Mulai dari prosedur kerja sampai perhitungan pembuatan larutannya. Ah, masih membingungkan. Meskipun kami telah menyelesaikan tahap try and error, tapi hasil penelitian yang kami peroleh beberapa minggu ini masih belum sesuai harapan. Ah -.-“

Masalah lainnya, ternyata judul skripsi saya dan teman-teman satu bimbingan ini berbeda loh dengan proyek dosen ini. Lah, saya jadi bingung maksud dosen ini apa >.< Masa beberapa minggu ini kami baru melakukan penelitian untuk proyek sang dosen. Sementara penelitian kami belum sama sekali dimulai. Ah, saya benar-benar stres setiap memikirkan ini -.-“ Namun, baru-baru ini saya mendengar bahwa dosen ini berniat menyamakan judul skripsi kami dengan proyeknya. Sehingga, apabila proyek sang dosen—yang sedang kami kerjakan ini—selesai, penelitian kami juga selesai. Tinggal menyusun skripsi. Tapi, itu juga belum pasti. Kami serasa masih digantung—tak jelas. Padahal laboratorium semakin sepi. Teman-teman satu laboratorium udah pada mau selesai dan sudah ada yang selesai penelitian. Ah, iri rasanya >.<

Penelitian ini benar-benar menyita pikiran saya, rasa-rasanya semangat menjadi surut mengingat pergumulan ini. Belum lagi fisik pun juga kena sita. Bayangkan? Saking melelahkannya penelitian itu, tiap pulang penellitian saya selalu langsung terkapar di kasur—tidur dari sore hingga malam. Parahnya, malamnya saya susah tidur tepat waktu. Alhasil, beberapa hari ini saya baru bisa tidur hingga hampir subuh. Menyiksa >.<

Tapi, saya sudah tak seegois sebelumnya kok. Sebelumnya saya benar-benar membiarkan tubuh ini begitu saja, mau habis ya habislah. Terserah saja lah. Ya, begitu pikir saya karena sudah terlampau lelah. Namun, saya sudah menyadari bahwa saya salah. Saya ingin menjaga tubuh pemberian-Nya ini. Jadi, meskipun mual dan tak enak, saya minum susu sebelum dan sesudah penelitian. Tak hanya itu, saya juga mengkonsumsi suplemen makanan agar tak “tewas” seperti sebelumnya. Ya, saya harus kuat!

Hal baiknya dari penelitian ini adalah kami melakukannya di Laboratorium Pengujian dan Penelitian PT Semen Padang. Alasan sang dosen membawa kami kesini adalah karena kelengkapan peralatannya, sehingga tak harus mengantri memakai alat seperti di laboratorium kampus saya. Meskipun disana kami tidak mempunyai ruangan— numpang—tapi memang penelitian jadi lebih cepat selesai. Tak hanya itu, kami juga bisa memperoleh wawasan dari karyawan yang bekerja disana. Amat-amati dan tanya-tanyai, itu juga beberapa aktivitas lain kami disana :D

Berikut foto-foto disana :
Sekilas gambaran Laboratorium Pengujian dan Penelitian PT Semen Padang


Saya (baju biru) dan Silvi (teman satu bimbingan) :D


Saya dan Rina (teman satu bimbingan) numpang foto di depan Dep. Rancang Bangun & Rekayasa PT Semen Padang :D




Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa lelahnya kami melakukan penelitian ini. Namun, saya ingin menikmati penelitian ini. Saya ingin berusaha menikmati setiap kelelahan ini, kemumetan pikiran oleh karena ini, dan juga pelatihan-pelatihan diri—melatih kesabaran, emosi. Ya, menikmati dan tidak menjadikannya hanya sekedar rutinitas. Saya mau melakukan yang terbaik dan dengan segenap hati dalam hal apapun, termasuk penelitian ini karena saya tahu bahwa Ia selalu menyertai dan sudah begitu baik pada saya. Jadi, tidak ada yang “terlalu” untuk diberikan pada-Nya, bukan? :) Hwaiting!^^

4/27/13

Malam Itu




Atas segala kelelahan yang tak lagi sanggupku dekap
Atas rasa letih yang tak lagi terungkapkan
Atas samar-samar bayangan rumah yang memanggil
Aku lemah…
Tak lagi berdaya, bahkan untuk sekedar mengeluh 
Jika ada tempat aku untuk mengadu,
Itu kamu..
Benar… 
Nama kamu satu-satunya yang tertera di benak di saat begini…

Malam itu sepertinya puncak dari segala keletihan saya. Benar-benar tak sanggup lagi terkatakan. Hanya mampu terbaring di tempat tidur, tak sanggup untuk sekedar bangun sejenak. Saya lemah. Saya teringat rumah. Siapa bilang saya kuat? Jauh, jauh di dalam, saya lemah.

Mama, papa, dan adik. Bayangan sosok mereka bahkan membuat saya merasa semakin lemah. Lemah karena begitu merindukan mereka di saat begini. Lemah karena saya tahu bahwa jika ada mereka di samping saya, saya akan merasa lega. Lemah karena membayangkan dekapan hangat mereka. Ya, saya benar-benar lemah di saat itu.

Kamu. Entah bagaimana nama kamu tiba-tiba terlintas di benak saya pada malam itu. Sebenarnya banyak kekhawatiran dalam hati saya jika mengadu pada kamu. Selain saat itu sudah tengah malam—mungkin kamu sudah tidur—, saya juga takut kamu merasa saya cengeng. Kemandirian kamu membuat saya gelisah. Kalau-kalau kamu merasa enggan dengan kelemahan saya ini. Pikir demi pikir, akhirnya saya menyadari bahwa memang hanya kamu tempat saya ingin mengadu saat itu. Saya memutuskan untuk mengadu pada kamu.

Awalnya saya mengirimkan untaian kata yang menunjukkan kondisi saya disaat itu. Entahlah apa namanya puisi atau apalah itu. Benar-benar tak disangka kamu masih terjaga tengah malam begitu. Tidak seperti biasanya. Takut-takut saya membuka pesan singkat dari kamu. Lega saat melihat emotion smile dari kamu. Kamu tersenyum, kemudian bilang “don’t worry” perihal pesan singkat saya yang isinya bolehkah saya mengadu ke kamu.

Percayakah kamu? Hanya dengan kata-kata sederhana kamu itu rasa letih saya tiba-tiba lenyap, berganti dengan senyuman. Bukan kata-kata penghiburan yang panjang dan puitis, hanya sekedar kata-kata “don’t worry”. Saya serasa segar, bangun lagi dari kelemahan.

Saya takut membalas pesan singkat kamu. Saya pikir sudah cukup pesan singkat darimu membuat saya tenang malam itu. Namun, kemudian pesan singkat dari kamu masuk lagi. Pesan itu seakan menyatakan bahwa kamu tak hanya ingin sekedar bilang “don’t worry”. Lalu, saya dan kamu bercerita sampai pukul 1 a.m. Saat itu saya baru sadar bahwa hari sudah berganti. Kamu menemani saya hingga pergantian hari. Untunglah saya sadar bahwa kamu juga perlu istirahat untuk aktivitas pagi itu.

Obrolan saya dan kamu begitu berarti bagi saya. Sekali lagi, sama sekali tidak ada kata-kata motivasi atau hiburan dari kamu. Kamu, dengan cara yang aneh tapi menyenangkan membuat saya merasa tidak sendiri di saat itu. Saya senang malam itu. Malam yang berat dan rasa-rasanya tak sanggup untuk dilewati itu seakan jadi malam yang menenangkan bersama kamu. Bahkan, beberapa kali saya senyum-senyum sendiri karena pesan singkat kamu. Aneh, bukan?

Kata “terima kasih” yang saya sampaikan pada kamu di akhir percakapan itu sungguh lahir dari hati yang paling dalam. Sungguh, tanpa ada kamu yang menemani mungkin malam itu saya akan menjadi semakin lemah seiring semakin berlalunya detik waktu. Dan pesan singkat penutup dari kamu yang hanya berisi emotion smile itu membuat saya semakin bahagia. Sederhananya kamu, membuat saya semakin jatuh, terbuai oleh rasa bahagia karena kamu.

Malam itu adalah malam yang tak akan terlupakan bagi saya. Malam dimana saya merasa kamu benar-benar hadir dalam hidup saya. Entah sebagai siapa, saya tak perduli. Kehadiran kamu sudah begitu cukup untuk saya.

Malam yang istimewa itu semakin menyadarkan saya akan arti kamu dalam hidup saya. Ajaib. Berbeda. Kamu yang seperti itulah yang kemudian menghadirkan rasa bahagia dalam hidup saya. Sekali lagi, terima kasih untuk kehadiran kamu :)

3/12/13

Memanajemeni Waktu



Siang hingga sore tadi akhirnya hujan mengguyur kota ini. Hati saya berteriak bahagia. Akhirnya, hujan yang saya nanti-nantikan hadir juga. Ya, dibalik kemumetan semua ini, saya sangat memerlukan hadirnya hujan, sang pemberi ketenangan, kesejukan, dan kenyamanan. Rasa-rasanya segala letih larut dibawa rintiknya. Sungguh menyenangkan :)

Beberapa minggu terakhir ini, saya merasa biasa-biasa saja. Bukan “biasa” dalam hal baik sih. Namun, ya biasa dalam maksud buruk. Apa-apa terasa biasa. Gak ada rasa senang. Gak ada rasa sedih. Gak ada rasa terharu. Biasa saja. Bahkan, saya merasa jenuh. Ya, benar. Saya bosan.

Kata seorang teman, hal ini wajar dialami mahasiswa tingkat akhir. Ya, mungkin itu salah satu alasan “biasa” atau kejenuhan ini. Tapi, saya rasa tidak hanya itu saja. Mungkin alasan lainnya adalah kurangnya waktu saya bersama-Nya. Bukan saya bilang bahwa Ia tidak bersama saya atau meninggalkan saya. Bukan, sama sekali bukan itu maksudnya. Namun, saya merasa kurang memberi waktu untuk bertemu dengan-Nya. Sungguh memalukan.

Jadi, waktu-waktu saya kemana? Saya habiskan untuk apa saja? Untuk ini:
-          Penelitian
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya saya dan rekan-rekan sepenelitian dapat memulai penelitian kami. Lamanya penantian ini sungguh membuat saya jadi ogah-ogahan. Bagaimana tidak? Saya kurang suka dengan sikap pembimbing kami yang tidak “jelas”. Janjinya tidak bisa dipegang. Kalau mau bertemu, gak ada waktu yang pasti kapannya. Ah, sungguh membuat kesal. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Mungkin juga ini salah satu cara-Nya agar saya belajar lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih menjaga emosi. Mungkin saja, bukan? Tapi, saya bersyukur kami melewati ketidakpastian itu hingga bisa memulai penelitian ini. Mekipun masih dalam proses try and error, tapi sudah ada yang kami kerjakan dan hasilkan. Berkali-kali error tidak jadi masalah.Ya, tetap aja harapannya jangan sampai error terus :D Semoga saja, penelitian ini berakhir baik. Kerumitan, kemumetan prosesnya, itu tak jadi soal buat saya. Kalau lancar-lancar aja, mungkin saya tak pernah belajar mengalami kesulitan.

-          Praktikum
Sudah jadi mahasiswa tingkat akhir, masih ada praktikum juga? :D Ya, saya tetap praktikum, tapi tidak sebagai praktikan lagi, melainkan sebagai asisten (kata teman saya, kami sudah naik tingkat ^^ ). Setelah menjalani peran baru ini, saya baru menyadari bahwa menjadi asisten tidak mudah, tidak santai-santai saja, dan tidak enak. Bayangkan? Sebelum praktikum dimulai, asisten terlebih dahulu praktikum (try and error). Hal ini sangat diperlukan agar saat praktikum tidak terjadi masalah. Selain itu, asisten juga harus belajar, bahkan harus lebih banyak belajar daripada praktikan. Kalau tidak, bagaimana mau membantu mereka memahami percobaan yang dilakukan? Ya, saya menjadi belajar kembali sejak jadi asisten. Hal lainnya, menjadi asisten juga membantu saya belajar sabar menghadapi berbagai karakter praktikan-praktikan :D Ya, meskipun lelahnya luar biasa (setiap pulang praktikum, saya langsung tepar di kasur), saya menikmati dan memang harus menikmati peran baru ini :)

-          Pelayanan
Pelayanan disini maksudnya adalah kegiatan-kegiatan rohani. Ya, saya mengambil bagian dalam suatu pelayanan mahasiswa. Jadi, ada tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Tugas-tugas itu tidak mudah dan cukup menyita waktu saya. Kadang juga membuat saya mumet dan cukup emosi. Tapi, ini juga termasuk dalam pembentukan karakter saya. Gak masalah. Saya juga menikmatinya :)


Ya, tiga hal tersebut begitu menyita waktu saya. Kelelahan, itu pasti. Mungkin itu juga yang membuat saya merasa jenuh. Kalau soal beban sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya rasa tidak seberapa. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang mengerti betul saya. Tiap mendengar keluhan teman-teman yang bilang orangtuanya nanyain kapan wisuda, saya hanya bisa tertawa. Beda sekali dengan mama dan papa. Beliau tidak menuntut saya wisuda cepat-cepat. Ya, pada waktunya juga akan wisuda kok. Saya senang, mereka begitu memahami apa yang saya alami :)

Kembali lagi pada kurangnya waktu saya bersama-Nya, saya mulai mengatur ulang waktu saya. Bahasa kerennya: belajar manajemen waktu :D Waktu saya untuk bersama-Nya dari jam berapa sampai jam berapa, waktu untuk membaca, menulis, belajar, dll mulai saya atur. Jadi, waktu untuk-Nya sama sekali bukan waktu sisa, namun waktu yang disisihkan―berkualitas. Ya, semoga saja upaya saya ini menghadiahkan sukacita yang dulu saya rasakan. Yap, saya rindu bersukacita dalam kelelahan, dalam kemumetan, dan dalam ketidakenakan. Berharap saya bisa menemukan sukacita itu lagi ^^ Hwaiting fany! :D   

12/13/12

Desember Ceria^^


Memasuki bulan Desember, menjalani bulan Desember, sungguh tak terasa bagi saya. Tiba-tiba saja rasanya bulan Desember tiba, serasa hanya beberapa jam, eh sudah tanggal belasan Desember. Wah, wah. Hal ini mungkin terjadi karena saya harus mengerjakan “sesuatu” dengan batas akhir akhir bulan ini. Jadi, bulan ini terasa lebih cepat berlalu dari bulan-bulan sebelumnya :D

Apa ya “sesuatu” itu? Ya, apalagi kalau bukan tugas akhir. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sepertinya pergumulannya tidak jauh berbeda. Kalau tidak proposal, ya skripsi. Ada mahasiswa tingkat akhir yang dulunya tenang-tenang saja, kemudian jadi galau. Ada mahasiswa tingkat akhir yang dulunya selalu senyum, eh jadinya bermuram durja :D Dan banyak pengaruh-pengaruh lain dari tugas akhir ini. Kalau saya pribadi, sepertinya mata saya jadi bengkak setelah begadang akhir-akhir ini. Pengaruh lainnya, saya jadi makin sering minum capucino tiap malam.. O.o

Sebelum semangat-semangatnya mengerjakan proposal ini, saya masih berkutat dengan ujian semester saya. Masalahnya ya itu, batas akhir proposal bertepatan dengan masa ujian. Awalnya saya berpikir bahwa menulis proposal itu tidak susah. Toh tinggal cari referensi, lalu kembangkan dengan pikiran kita. Ternyata oh ternyata saudara-saudari, sungguh menyulitkan! >.<

Mungkin karena otak saya dipaksa berpikir secara cepat padahal tak mampu :P Mungkin juga karena saya kelelahan. Yang pastinya, ternyata membuat suatu karya tulis ilmiah itu susah. Sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Rasanya berbeda dengan menulis catatan di blog ini atau menulis opini atau menulis cerpen, dan jenis tulisan lainnya. Menulis karya ilmiah memang masih baru buat saya. Baru di tahun akhir kuliah ini, saya bertemu dengan “beliau” loh >.<

Untung saja ada beberapa hari waktu senggang saya, menjelang ujian berikutnya. Saya berharap waktu ini bisa saya gunakan untuk menyelesaikan proposal ini. Semoga, semoga :D

Oh, ya, ada lagi pergumulan saya. Sebenarnya saya sudah mengikhlaskannya sih, tapi tetap aja harapan dibaliknya :D Ya, sepertinya saya tidak bisa merayakan natal bersama keluarga di rumah. Padahal awalnya saya sangat antusias menantikan bulan Desember agar bisa merayakan natal bersama keluarga, utuh. Namun, ternyata oh ternyata (lagi), seminar proposal bidang penelitian saya ini akan diadakan sekitar 2-3 hari setelah natal. Jadi, sangat tidak mungkin pulang ke rumah, kemudian balik lagi kesini keesokannya. Selain jauh dan melelahkan, biayanya juga cukup besar >.< Alhasil, saya rela natalan disini. Toh damai natal tidak berkurang dalam hati saya meskipun tak bersama keluarga terkasih :) 

Tapi, jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh di lubuk hati saya, saya masih mengharapkan adanya keajaiban ;) Saya berharap seminar saya diundur menjadi awal tahun depan, bukan bulan ini. Ada kemungkinan sih, tapi ya saya ingin menyerahkannya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia boleh berharap, tapi saya yakin bahwa Tuhan punya yang terbaik buat saya. Desember ini tak boleh menjadi Desember yang redup bagi saya, Pokoknya tetap Desember ini Desember ceria buat saya. Senang gak senang, enak gak enak, lelah, penat, mau berhenti, namun menjalani hidup dengan sukacita adalah suatu keharusan bagi saya :D Tetap semangat! ^^

11/21/12

Gelisah Ini

Perasaan ini sudah tak terbendung lagi
Hampir meledak, saking tak bisa ditahan
Bisa jadi menyakitkan, jika dibiarkan
Dan kamu ingin semuanya terlewati
Tanpa harus ada yang terkenai
Seperti helai daun yang dibawa sang angin
Kamu juga ingin perasaan itu pergi jauh
Melayang, pergi entah kemana
Bisa, pasti bisa
Hanya kamu sendiri yang mampu menjadikannya
Karena ini kamu, ini diri kamu
Hanya kamu yang mengerti…

Beberapa minggu ini, jujur saya sangat tidak merasa baikkan >.< Berkali-kali saya mencoba menyegarkan kembali otak ini dengan bersantai sejenak ke tempat yang dapat menghibur kejenuhan, seperti pantai. Ya, memandang air laut itu melegakan hati. Tenang dan damai. Apalagi saat saya melihat matahari terbenam. Wah, semakin membuat hati ini tenang, melihat kebesaran Tuhan melalui karya-karya-Nya :) 

Pantai Purus, Padang

Tak hanya sekali saya mengunjungi pantai beberapa minggu ini, namun sudah dua kali. Rasanya itupun tak cukup. Sekarang ingin sekali mengunjungi tempat itu lagi >.< Wah, tapi sebaiknya hari ini saya istirahat yang cukup saja yaa :D

Tahukah teman-teman apa yang saya rasakan beberapa minggu ini? Wah, sungguh tak terungkapkan lagi rasanya. Rasa gelisah, tak tenang, tak pernah bisa tidur nyenyak, makan pun tak lahap, dan berbagai kondisi kurang baik lainnya. Tiap jam, tiap hari, selalu saja memikirkan sesuatu yang sama. Apalagi kalau bukan “Seminar Kolokium" >.<

Kalau ada yang bingung apa itu seminar kolokium, saya akan menjelaskan sedikit. Jadi, seminar kolokium itu sama dengan seminar literatur. Mahasiswa, secara individu akan membahas suatu jurnal—jurnal internasional—yang akan diseminarkan di depan pembimbing, dua orang penguji, dan hadirin.

Jadwal seminar saya sudah berkali-kali diubah. Nama saya berkali-kali nongol di papan pengumuman. Awalnya nama saya muncul pada minggu pertama seminar kolokium. Kemudian dicoret dengan alasan berkas-berkas saya belum lengkap. Saya pun mengelus dada, penuh rasa syukur :D Lalu, pada minggu kedua seminar, nama saya keluar lagi. Namun, diundur kembali karena permintaan pembimbing. Lalu, nama saya muncul lagi sebagai pengganti teman yang berhalangan seminar. Kemudian, teman tersebut akhirnya jadi seminar, tidak berhalangan. Nama saya akhirnya dicoret lagi. Dan akhirnya, ada kepastian jadwal seminar saya. Ya, besok adalah jadwal seminar kolokium saya. Dan itu yang membuat saya segala perasaan ini campur-aduk >.<

Ini minggu ketiga sejak seminar kolokium di jurusan saya dimulai. Selama dua minggu yang telah berlalu, saya sudah melihat seminar beberapa teman. Hal ini semakin membuat saya gelisah. Bagaimana tidak? Saya membayangkan yang berdiri disana adalah saya, yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari penguji, yang kesulitan menjawabnya, yang hanya bisa terdiam. Wah, semakin banyak saya melihat seminar teman-teman, semakin deg-degan lah saya menjelang seminar >.<

Besok adalah hari H. Hari ini saya sudah cukup letih karena ada ujian suatu mata kuliah. Sepulangnya, saya kembali berlatih untuk mempresentasikan jurnal tersebut. Sepertinya sudah berkali-kali saya berlatih begini.. O.o Saya merasa tetap kurang maksimal. Semakin mendekati hari H, semakin kacaulah pikiran ini >.< Oleh karena itu, saya memikirkan untuk mencari solusinya. Mungkin dengan makan es krim saya bisa lebih baik. Atau dengan makan cokelat? :P Ya, pokoknya malam ini saya ingin mengistirahatkan pikiran dan fisik dulu. Hingga besok bisa tampil dengan segar :D

Apapun yang terjadi besok, saya sudah menyerahkan segala-Nya kepada Tuhan. Tapi, tentu saja saya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi-Nya. Ayo ayo ayooooo!!! EKSTRA SEMANGAT!!!^^

11/13/12

Dari Rasa Tidak Puas Menjadi Pahlawan

“Rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri”
Peribahasa di atas pastinya sudah seringkali kita dengar. Saya mengartikan peribahasa ini sebagai segala sesuatu yang dimiliki orang lain terlihat lebih baik daripada yang kita miliki. Ya, begitulah sifat manusia, yang sering tidak merasa puas. Sudah punya handphone BB (Blackberry), pengen punya android juga. Sudah punya BB dan android, pengen iPad pula. Itu pun masih merasa belum puas juga. Ya, begitulah sifat yang biasanya ada pada manusia :D
Menurut saya, rasa tidak puas, juga dapat menjadi hal yang baik. Contohnya, tidak merasa puas dengan nilai ujian yang diperoleh, sehingga seseorang menjadi lebih giat belajar. Contoh lainnya, seseorang yang merasa tidak puas dengan perubahan-perubahan karakternya, sehingga ia menjadi semakin semangat memperbaiki karakter-karakter lainnya yang kurang baik. Itu adalah contoh implikasi rasa tidak puas yang baik. Contoh lain yang ingin sekali saya ingar-bingarkan adalah rasa tidak puas akan keadaan bangsa Indonesia. Seandainya kita selalu merasa tidak puas dengan kondisi bangsa ini, pastilah kita akan semakin semangat berjuang untuk Indonesia yang lebih baik lagi.
Melihat kondisi Indonesia yang sekarang, jujur saya merasa sangat tidak puas. Hukum yang kurang ditegakkan, korupsi merajalela, angka kemiskinan yang masih sangat besar, angka kriminalitas yang tinggi, dan kondisi-kondisi buruk lainnya. Puaskah Anda melihat keadaan Indonesia yang sekarang ini? Jika Anda dan saya sepakat bahwa tidak puas melihat kondisi bangsa ini, apa yang bisa kita lakukan?
Baru-baru ini, kita memperingati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Mengingat jasa pahlawan yang berjuang mati-matian demi kemerdekaan Indonesia, saya menjadi semakin semangat lagi. Para pejuang tersebut tidak mementingkan “rumput mereka masing-masing”, melainkan “rumput kita” yaitu Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan kita di zaman ini, dimana yang utama adalah “saya” dan “semua tentang saya”. Ya, semangat kepahlawanan seperti itulah yang patut kita tiru untuk Indonesia.
Mungkin perjuangan kita di zaman ini tidak sampai berdarah-darah seperti para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Mungkin tidak sampai kehilangan nyawa. Tapi, mungkin saja kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan demi Indonesia. Dengan cara apapun kita berjuang, kita tetap berjuang demi Indonesia. Mungkin kita akan menjadi pejuang di bidang ilmu sains atau di bidang hukum atau politik atau bidang-bidang lainnya. Mari kita semua sama-sama berjuang demi masa depan Indonesia yang lebih baik lagi. Semoga saja rasa tidak puas kita akan Indonesia dapat mendorong kita menjadi pahlawan-pahlawan yang tak kenal lelah, tidak hanya memperhatikan “rumput sendiri”, namun melakukan semuanya demi kemajuan bangsa ini. Semoga :)

Selamat memperingati hari pahlawan^^

9/20/12

Rindu Jatuh Cinta


Saya kehilangan sense itu....

Berdebar-debar di sampingnya
Senyum-senyum jika mengingat momen bersamanya
Begitu hapal dengan ucapannya, kata per kata,
 bahkan isi pesan singkatnya
Menanti-nanti kabarnya
Berbagi topik doa bersamanya
Merenda rencana-rencana masa yang akan datang bersamanya

Ya, saya kehilangan itu semua. Bahkan, sepertinya saya sudah tidak ingat lagi bagaimana rasanya. Menuliskannya tanpa ada rasa. Memikirkan semua itu tanpa rasa. Sepertinya saya mati rasa soal ini. Wah, wah, sepertinya memang begitu >.<
Sejujurnya saya rindu merasakan semua itu. Ingin sekali rasanya jatuh cinta lagi. Ingin rasanya memiliki seseorang yang berada di samping saya lagi. Dan bukankah keinginan itu wajar? Tapi, jangan salah. Saya bukannya merasa kesepian. Saya bukannya merasa hampa karena tidak ada pasangan. Toh, bukan pasangan yang mengisi kekosongan di hati manusia, namun hanya Tuhan saja. Jadi, sekali lagi saya bilang bahwa saya tidak kesepian, saya tidak merasa hampa karena tak ada pasangan. Saya penuh, saya utuh di dalam Tuhan. Namun, saya tetap rindu untuk menemukan seseorang itu. Bukan untuk mengisi kesepian atau kehampaan, namun untuk mendampingi saya, membantu saya semakin bertumbuh mengenal-Nya  dan saya berharap kali ini tak salah lagi, bahwa memang benar dia, orang yang Tuhan siapkan untuk saya.
Saya tidak tahu kapan saya akan merasa jatuh cinta lagi. Saya tidak tahu dengan siapa saya akan jatuh cinta lagi. Dan saya tidak tahu apakah rasa jatuh cinta di masa datang akan sama dengan yang sebelumnya atau tidak. Namun, saya percaya, Tuhan berkuasa atas semua itu. Saya menanti jawaban-Nya dan akan selalu menanti. Ya, pasti Dia akan menjawab “pada waktu-Nya”.
Baru-baru ini saya menemukan sebuah doa yang indah untuk pasangan hidup. Kalau yang ini doa wanita untuk seorang pria yang akan menjadi pasangan hidupnya. Ini bukan kutipan langsung, jadi ada beberapa kalimat yang saya potong, sesuai kepentingan. Yang penting, doa ini membuat saya jadi terharu saking indahnya. Ini dia:
               
Lord,
I pray for a man, that will be a part of my life
A man that really loves YOU more than everything
A man that will put me in the second place of his heart
A man that lives not for himself but for YOU
The most important is
I want a heart that really loves and thirsty of YOU

Someone that has a wise heart
Not only a smart brain
A man that not only loves me but also respect me
A man that not only adores me
But can warn me when I am wrong
A man that loves me not because of my beauty
But my heart
A man that can be my best friend
In every time and situation
A man that makes me feel like a woman
when I am beside him

I do not ask for a perfect man
But I ask for an imperfect man

A man that needs my support for his strength
A man that needs my prayer for his life
A man that needs my smile to cover his sadness
A man that needs my love so he feels being loved
A man that needs me to make his life beautiful

And I also ask
Make me be a woman that can make him proud
Give me a heart that really LOVES YOU
So I can love him with Your Love
Not love him with my love

And I want that when we finally meet
Both of us can say
How great Thou Art
I know that You want us to meet at the right time
And You will make everything beautiful in Your time
Amen*

*(dikutip dari  Booklet Buletin PO FKG UI yang katanya diambil dari buku Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta karya Grace dan Steven)

Selamat menanti pasangan hidup di dalam Tuhan :)

9/5/12

Belajar Dewasa


Rasa itu begitu dalam
Begitu menyesak dada
Sampai-sampai enggan merasanya
Kamu ingin lari
Kamu mau menghilang
Tapi kamu salah
Kamu tak perlu menghindar
Hanya perlu menghadapinya,
Hanya butuh melawannya
Hingga kamu mengerti bagaimana caranya…

Baru-baru ini saya merasa benar-benar jenuh. Sungguh, tak dapat dikatakan lagi seberapa menyesaknya rasa jenuh itu. Saya merasa lelah, baik lelah hati, maupun lelah fisik. Rasa-rasanya begitu banyak hal yang saya harus pikirkan dan banyak hal yang harus saya kerjakan. Alhasil, rekan-rekan setim saya yang jadi korbannya. Mereka yang jadi pusing karena saya pusing. Mereka yang jadi harus memikirkan karena saya minta mereka yang memikirkannya. Ya, mungkin saya lelah karena mengerjakan hal yang itu-itu aja. Bahkan, mungkin saya merasa tertekan harus memikirkan dan melakukan yang itu-itu terus. Sepertinya begitu.

Saya bersyukur sekali setelah saya memutuskan untuk “rehat sejenak” dari kesibukan saya, banyak hal yang mengingatkan saya untuk tidak terlarut dalam kejenuhan itu. Saya ditegur berkali-kali lewat firman-Nya dalam saat teduh saya. Saya juga ditegur lewat buku yang saya baca. Bahkan, dari beberapa orang. Saya diingatkan untuk tidak mengabaikan tugas dan tanggung jawab saya ‘hanya’ karena kejenuhan itu. Saya diingatkan kembali tentang tujuan saya melakukan segala sesuatunya. Ya, saya tidak sadar. Atau mungkin saya lupa? Entahlah. Yang terpenting, saya sudah ingat atau sadar bahwa motivasi saya mengerjakan ‘pekerjaan-pekerjaan’ itu adalah bagi-Nya, karena saya ingin melakukan segala sesuatu terbaik untuk-Nya. Sehingga perlu dipertanyakan lagi, apa sudah benarkah motivasi saya dalam melakukan tugas-tugas tersebut? Atau selama ini saya hanya mengerjakannya karena program semata? Renungan yang sangat ‘ngena’ buat saya. Dan saya senang ditegur-Nya.

Beberapa hari kemudian, saya ditanyai tentang tugas yang harus saya kerjakan. Syukur sekali saya sudah diingatkan sebelumnya, sehingga dengan semangat saya katakan bahwa saya akan segera mengerjakan dan menyelesaikannya. Lega sekali, bahagia sekali saat saya mengatakan hal tersebut. Padahal pada saat merasa jenuh itu saya sudah menyerahkan segala tugas dan tanggung jawab itu kepada rekan-rekan setim. Namun, sekarang saya sudah semangat lagi. Ternyata memang disini Tuhan mau saya bekerja dan saya menyadari bahwa saya sangat menyukai tugas dan tanggung jawab yang harus saya kerjakan ini. Ya, saya menikmatinya :)

Dari hari ke hari, saya merasa semakin didewasakan-Nya. Saya dipaksa-Nya dewasa menghadapi segala hal, bahkan hal-hal yang dulunya tidak saya sukai. Ya, saya tahu itu adalah keharusan, meskipun terkadang begitu sakit rasa-Nya untuk mengikuti kehendak-Nya. Saya ingin berusaha taat. Saya ingin menyerahkan diri saya sepenuhnya bagi-Nya. Jika saya jenuh lagi, saya sudah tahu caranya. Saya harus paksa diri saya untuk tetap menghadapinya, untuk melawan rasa jenuh itu karena saya tahu bahwa saya tidak bisa sesuka hati lagi mengatur hati dan diri saya, ada Dia, Dia yang punya Kuasa. Semoga saya tak lupa atau tak sadar lagi ya :D Semoga saja :)


8/27/12

Terus Menulis


Sudah begitu lama saya tidak menulis di blog ini. Ya, memang beberapa waktu lalu saya kembali menulis tentang kisah saya selama masa KKN. Namun, selain itu, saya tidak tahu harus menceritakan apa. Mungkin itu alasan saya sudah begitu lama tidak menulis. Mungkin karena tidak ada niat. Mungkin karena kesibukan-kesibukan saya. Atau mungkin saja karena yang alami biasa-biasa saja, sehingga tak ada yang pantas diceritakan. Atau kemungkinan terakhir, apa karena kamu tidak lagi berada di sisi saya ya sehingga saya kehilangan semangat untuk menulis dan bercerita? Ya, biasanya saya senang menulis apa yang saya rasa. Saya suka menulis tentang kamu. Saya rasa, kamu salah satu alasan saya semangat untuk menuliskan curahan hati saya di blog ini. Ya, sepertinya kamu alasan utama atas segala halnya. Tapi, cukup tentang kamu. Sekarang saya kembali menemukan nikmatnya menulis :)

Beberapa waktu lalu, saya membaca beberapa postingan blog saya yang dulu-dulu. Benar,ternyata saya menyukai setiap posting yang ada tentang kamu. Hei, hei. Kok tentang kamu lagi. Cukup, cukup. Nah, setelah membaca semua postingan itu, saya merasakan kembali semangat menulis. Ternyata memang begitu menyenangkannya bisa menuangkan seluruh yang saya rasa dalam bentuk tulisan. Ya, saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Saya juga orang yang sulit untuk beramah-tamah dengan sesama. Saya tipe yang tidak suka hal seperti itu. Sampai-sampai, untuk mengatakan ‘terima kasih’ saja rasanya berat sekali. Aneh ya? Makanya, tulisan sangat berharga bagi saya. Ada begitu banyak kata yang tidak bisa saya ucapkan. Dengan tulisan, saya bisa mengungkapkan semuanya. Lengkap, jelas. Semuanya. Tanpa perlu takut atau segan mengungkapkannya. Huahh, benar-benar lega :D

Sebenarnya saya lupa sejak kapan tepatnya saya mulai menyukai  dunia tulis-menulis. Dulu semasa SMP, saya suka menulis puisi. Kalau dibaca puisi saya saat masih SMP, wah saya jadi malu >.< Sepertinya benar-benar kacau :D Asal-asalan saja. Lalu, seingat saya, saya mulai suka menulis novel remaja/teenlit saat SMA. Novel Dealova-nya Dian Nuranindya menginspirasi saya untuk bercita-cita menjadi penulis novel. Saya mulai menulis novel. Saya menyelesaikan novel teenlit pertama dengan banyak halaman 68. Wah, saya jadi senyum-senyum sendiri mengingat itu :D Bayangkan, 68 halaman, isinya percakapan yang nggak jelas pula. Singkat-singkat dan garing pula dialognya. Yang penting halamannya banyak euyy. Hahaha :D saya kasih deh,sepotong  percakapan ngawur novel pertama saya :

“Panas banget nih mienya!” ucap Alvin sambil megap-megap.
“Nggak penting panas atau enggaknya. Yang penting makan!” kata Della.
“Hmm… iya deh!”
“Jadi nggak minta maaf dulu ama gue?”
“Hah! Minta maaf, apaan?”
“Enak aja loe! Loe udah buat kaki gue sakit, tau!”
“Kan loe yang mau turun!”
“Lagian loe yang nggak ikhlas!”
“Emang!”
“Dasar cowok sok!”
“Bukannya sok, tapi emang benar!”
“Cerewet!!!”
“Elo tuh yang cerewet! Dasar cewek!!!”
“Loe ngehina cewek?? GUE NGGAK TERIMA!!!”
“Eh,eh, diam donk! Dari tadi, temen-temen loe ngelihatin kita! Sekarang, mereka tambah ngelihatin kita, cerewet!”
“Itu semua gara-gara loe!!!”      

*Ngakak bentar

Beneran, sampai sakit perut rasanya ngakak baca novel pertama saya dulu. Maksudnya, mau kayak novel Dealova, yang ada berantemnya Kara dan Dira. Eh, jadinya malah kayak gitu. Maksa banget :D

Tidak berhenti sampai disitu, saya menulis beberapa novel lainnya. genre-nya sama, teenlit. Dulu, saya pernah bermimpi menjadi penulis novel terkenal, setidaknya memiliki novel yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan. Bahkan, saya pernah memimpikan seandainya novel saya diangkat menjadi film, seperti Dealova :D Sebenarnya impian begitu tak jadi soal. Yang lucunya, novel yang saya tulis semasa SMA itu novel yang dangkal sekali ceritanya, kalau saya baca sekarang. Padahal dulu  rasanya saya sudah begitu puas dengan novel-novel itu >.< Tapi, saya sangat bersyukur karena masih memiliki dokumen-dokumen novel tersebut meskipun ada beberapa yang hilang karena  sudah beberapa kali pindah komputer, sampai akhirnya masih tersimpan di laptop saya tercinta ini. Dan ternyata semangat saya untuk memulai novel yang baru tidak sebanding dengan semangat menyelesaikannya. Cukup banyak novel-novel lama saya yang tidak selesai. Namun, syukurlah masih ada kenangan-kenangan yang tidak hilang :)

Dalam masa peralihan dari siswi SMA menjadi mahasiswi, saya masih menulis. Saya menulis di catatan dalam akun facebook saya. Dan akhirnya, sampailah saya ke blog ini. Sebenarnya saya sudah cukup kenal blog. Beberapa teman saya sudah memilikinya. Bahkan, saya pernah menjadi diminta untuk posting suatu cerpen ke blog teman. Namun, saya belum niat memiliki blog sendiri. saya takut tidak bisa mengurusnya. Pikiran saya berubah saat saya begitu tertarik dengan suatu blog. Tulisan-tulisannya bagus sekali. Saya jadi semangat menulis di blog dan mulailah saya posting pertama. Setelah dilihat-lihat, tulisan saya di awal blogging itu polos sekali ya :D Sekarang sudah lumayanlah. Hehe :D

Ya, begitulah kisah saya dan tulisan saya. Yang tidak berubah dari tulisan saya.. hmm.. apa ya? Mungkin tentang hujan. Sedari SMA saya mulai menyukai hujan dan sampai sekarang. Meskipun perasaan saya sudah berpindah-pindah dari orang itu, orang ini, orang yang lain lagi, tapi perasaan saya akan hujan belum berubah. Saya masih menyukai suaranya, tetesnya, dinginnya. Ya, masih.

Dengan tulisan ini, saya ingin mencoba semakin giat menulis. Maunya sih sebulan sekali bisa nulis di blog ini. Ya, semoga saja saya tetap semangat ya karena sebaiknya menulis bukan karena mood, tapi karena saya benar-benar menyukai menulis. Mari mulai menulis, tetap menulis, dan terus menulis! Hwaiting!^^

5/17/12

Transisi


Sinar itu semakin meredup,
Tak lagi benderang seperti dulu
Sumbernya sudah hilang, pergi,
tak tahu kemana,
seakan katakan, tak usah lagi cari
Sinar itu semakin hilang,
lenyap tanpa sampaikan apa-apa


Baru-baru ini saya sedang dalam masa transisi. Transisi dari kos ke rumah kontrakan, juga transisi urusan hati. Semuanya terasa berbeda. Ya, begitulah namanya transisi.

Tidak beberapa lama lalu, saya pindah kos (lagi).  Kali ini ke rumah kontrakan bersama teman-teman. Teman-teman baru dan kondisi rumah yang baru, pastilah berbeda. Dalam masa transisi itu, saya mencoba untuk belajar memahami orang-orang baru. Saya menyadari bahwa saya orang yang cukup lama dalam masa transisi ini. Bagi saya, tidak mudah menyesuaikan diri ke suatu keadaan yang berbeda. Namun saya tidak mau berhenti. Saya terus mencoba sekuat kemampuan saya. Pasti bisa nantinya.

Tidak hanya kos, saya juga mengalami transisi hati. Jelas ini transisi yang berat bagi saya. Yang dulu begitu, sekarang jadi begini. Awalnya semuanya terasa sama saja. Toh kondisinya masih sama. Namun beberapa hari ini saya baru merasakan bedanya. Ingin teriak rasanya. Saya lelah, sungguh lelah dengan kondisi seperti ini. Bukannya saya ingin yang dulu tetap seperti dulu, namun setidaknya ya berjalan dengan biasa saja, tidak perlu ada perbedaan yang signifikan seperti sekarang. Benar-benar saya tak tahu lagi harus bilang apa. Mungkin ujung-ujungnya akan menjadi begini ya. Saya saja yang tak menyadarinya.

Kalau dipikir-pikir, masa transisi itu baik juga. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari masa transisi. Saya mesti berjuang lebih keras lagi. Saya menyadari disinilah saya semakin dibentuk oleh-Nya. Ya, ini penting bagi saya. Saya percaya, Dia tidak akan pernah meninggalkan saya sendirian. Selalu ada uluran tangan-Nya saat saya tak tahu harus kemana mengadu. Saya kuat karena kuasa-Nya. Saya mampu oleh karena kekuatan dari-Nya. Semoga masa transisi ini berjalan dengan baik. Hwaiting!^^

2/14/12

Resolusi


Setelah lama tidak menyentuh dunia blog, akhirnya saya kembali. Waaaaahh, kangen sekali untuk bercerita..

Dia tahu sudah tak bisa lagi
Tapi kamu masih mencoba bertahan
Seolah-olah mampu
Kamu masih melawan derasnya hujan itu
Dia berteriak-teriak bilang jangan lagi
Tapi kamu tak mau tahu
Seolah-olah bisa jadikan seperti yang kamu inginkan
Kamu bersikeras, kamu tak mau dengar
Dia kembali ingatkan, sudah, sudah
Dan akhirnya kamu menyadari
Ternyata kamu pun tak sanggup
Ternyata kamu pun begitu rentan
Lalu, kamu pun tahu
Bukan rencanamu yang jadi, tapi rencana-Nya

Di tahun 2012 ini, ada berbagai resolusi besar yang menjadi komitmen saya. Saya ingin membuang kesalahan-kesalahan di masa lalu dan bangkit jadi yang baru lagi di dalam-Nya. Begitu banyak hal yang baru sadari dari dalam diri saya sendiri. Ternyata saya tidak baik-baik saja. Ternyata saya tidak sekuat itu. Ternyata ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari dalam diri saya.

Terkadang manusia sering sekali tidak melihat kesalahan pada dirinya sendiri, tapi kalau melihat kesalahan orang lain, wah gampang sekali rasanya ya. Jadi manusia itu lebih enak menganggap sesuatu terjadi karena kesalahan orang lain, daripada karena kesalahan diri kita sendiri. Saya menyadari, ternyata begitulah saya. Ternyata saya sendiri lemah. Saya rentan.

Tapi, saya tak mau cukup sampai begini saja. “Tuhan tidak menghitung berapa kali kamu jatuh, tapi berapa kali kamu bangkit dari kejatuhan itu.” Saya percaya, saya bisa bangkit. Perlahan-lahan, tapi dengan komitmen yang kuat, saya yakin. Seperti layang-layang jatuh, Tuhan datang pada saya dan bilang “Kita dapat memperbaikinya.” Saya menyerahkan diri saya seutuhnya ke dalam tangan-Nya dengan bilang, “Iya, Tuhan. Ajarkan saya cara memperbaikinya bersama-Mu.”

Ternyata saya menemukan kelimpahan itu di dalam-Nya. Saya merasa pemeliharaan-Nya begitu hebatnya pada saya. Kasih Tuhan tak pernah habisnya bagi saya. Tuhan membantu saya memperbaiki diri saya tanpa saya tahu bagaimana Ia bekerja. Lalu saya kembali bersyukur pada-Nya. Tidak ada lagi keraguan dalam hati saya. Saya tidak akan pernah kekurangan apapun di dalam Dia. Saya tidak akan merasa sendirian bersama genggaman tangan-Nya.

Tahun yang baru, resolusi yang baru. Saya siap Tuhan bentuk seperti yang Ia kehendaki, meskipun terkadang sakit rasanya.

Selamat berjuang di tahun yang baru ini. Hwaiting! :)

9/2/11

Cinta Monyet

Ini cerita cinta monyet saya waktu SD.
Sewaktu masih SD, saya bisa dibilang cukup populer. Secara saya waktu SD itu manis dan juga juara kelas (nyombong dikit :p ).kalau ditanya berapa banyak yang naksir? Duh, jangan ditanya lagi deh. Jawabannya : enggak ada! Eh, canda ding. Aslinya, lumayan rame lah yang ngantri (bohong dikit) :)
Yang namanya anak SD, baru belajar suka-sukaan. Saya juga berkali-kali suka ama temen-temen SD saya. Standar saya waktu SD pas liat cowok: pinter, ganteng dan lucu. Pinter jadi standar utama saya liat cowok. Alasannya tentu saja saya ingin punya pacar yang lebih pintar dari saya. Dulu itu saya cukup terkenal satu sekolahan, bahkan sampai ke sekolah lain (bohongnya mulai banyak :P). Berbagai gosip menerpa, saking banyaknya yang katanya suka saya. Digosipin sama ini lah, sama itulah, dan lumayanlah. Tapi, untung saja sewaktu SD saya belum pernah ditembak. Belum pernah ada yang bilang, saya suka kamu, mau nggak jadi pacar saya? Belum pernah ada yang kayak gitu, tapi hanya sebatas taksir-taksiran.
Contohnya aja ada cowok yang lagi digosipin lagi deket sama teman saya. Terus, sambil bisik-bisik dari bangku masing-masing yang agak berjauhan, kami ngobrol.
Saya : Cieeee.. liatin dia ya? Cieeee.
Dia : enggak kok.
Saya : Halah, bilang aja suka dia kan (senyum-senyum jahil).
Dia : enggak kok, saya sukanya sama kamu.
Hening. Pembicaraan langsung saya hentikan. Loh, kok saya. Saking takutnya, saya jadi nggak ngeliat muka tuh cowok sampai pulang sekolah dan besok-besoknya lagi. Takut banget di tembak, itu jadi rumus saya waktu SD.
                Ada beberapa cerita tentang cowok yang naksir saya, yang paling saya ingat adalah dia. Sebut saja inisalnya H. Saya baru sekelas dengan H di kelas 6 SD. Kalau dilihat-lihat, dia itu nggak pinter-pinter amat dan juga nggak ganteng. Jadi otomatis, saya nggak naksir dia. Dia cuma suka main basket, jahil dan kejam banget ama saya. Suka ejekin nama orangtua saya (maklum anak SD biasanya malu kalau disebut-sebut nama orangtuanya). Nah, ceritanya berawal saat saya mulai punya HP. Kalau dulu, dikit banget yang udah punya HP sejak SD. HP saya itupun juga HP buat semua anggota keluarga, bukan HP pribadi. Tapi karena saya anak paling besar, jadilah saya yang sering pegang HP itu.
                Sejak punya HP, banyak banget yang minta no HP saya. Tapi, si H ini tidak pernah minta HP saya. Namun, sering ada nomor yang nggak saya kenal (nggak kesimpan di phonebook HP) misscall doank. Setelah ditanya sana-sini, akhirnya saya tahu itu nomor si H. ternyata si H diam-diam nyatat nomor saya saat teman yang lain nanya no HP saya.
                Semenjak itu, dia sering SMS sekedar nanya masalah sekolah, seperti ‘besok ada PR nggak?’ atau pas lagi ada acara sekolah dia nanya, ‘besok pakai baju seragam apa?’ dan selanjutnya. Entah kenapa, saya masih ingat. Lama-kelamaan dia juga suka ngirimin picture message yang isinya ‘goodnite’ atau pernah juga ‘I miss u’. Saya dulu cuma tau arti I miss u dan I love u. kalau goodnite, saya pusing mati-matian nyari artinya. Saya tahunya good night aja. Hehe.
                Saya sama sekali nggak menanggapi setiap kata-katanya yang kayak gitu. Tapi kalau ada kepentingannya ya saya bales. Kemudian, akhir-akhir mau tamat SD, dia rajin kirim kalimat ‘I love u’. setiap ada SMS dia yang isinya itu, langsung saya delete. Entah kenapa, saya pikir kok si H ini ‘enggak’ banget deh. Apalagi tiap di sekolah, dia nggak pernah perhatian dan ngobrol sama saya. Tapi SMS nya bisa aneh-aneh gitu. Yang lucunya, pernah waktu itu HP sekeluarga itu lagi di kamar orangtua saya. Sedangkan, dia terkadang SMS malam-malam (lebih malam dari jamnya anak SD).
                Paginya, mama ngomong ama saya sambil senyum-senyum,”Si H kemarin malam SMS isinya I love u loh, Fan. Haha.”
                OMG! Muka saya langsung semerah tomat.
                “Kemarin papa yang buka SMS-nya.”
Gedubrak! Saya tambah malu lagi. Ya ampun! Kenapa ini semua bisa terjadi? Pada akhirnya, mama malah nyeritain ke adik saya dan saya diledek habis-habisan sepanjang hari di rumah. Malu banget >.<
Sedangkan, si H yang nggak jelas itu, nggak ada lagi SMS saya. Seingat saya waktu itu pas pendaftaran SMP, mama dan saya ketemu dengan dia dan papanya yang sama-sama daftar di SMP yang sama. Dan saat itu, mama nyeritain cerita lucu (menurut mama) itu ke papanya. OMG! Pastinya dia juga malu banget. Dan waktu itu saya baru sadar, mama ternyata tegaan dan nggak sensitif ya. Ya ampun!
Sejak itu, saya nggak pernah ngomong lagi ama dia, meskipun kami lagi-lagi sekelas di SMP yang sama. Pernah dia ngomong, tapi tetap aja tegaan dan jahat banget.
“Tadi nggak piket kan, Fan?” katanya sehabis dia piket.
Saya langsung geram. Saya orang pertama yang nyampe ke kelas dan langsung piket, eh malah dibilang nggak piket. “Enak aja! Kamu yang datangnya telat! Mana tau kalau aku udah piket duluan!”


Dan dia diam doank, dengan tatapan nggak ada ekspresi sama sekali. Aneh! Saya dan dia makin jauh, kayak orang asing banget. Dia asik dengan basketnya, dan jadi cowok yang diidolain cewek-cewek karena dia keren banget main basketnya. Apalagi dari hari ke hari, dia jadi makin ganteng. Dan saat itu saya merasa menyesal telah melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengannya dulu. Setelah banyak banget fans-nya, saya baru nyadar kok saya merasa kehilangan dia ya. Huhu. Saat adik saya bilang, ‘itu makanya, kenapa kakak nggak mau ama dia pas dulu’. Saya  jawab,’habis dulu dia nggak ganteng dan jago basket sih’. Hehe. Dan kemudian, tamat SMP dia kuliah di luar negeri sampai saya nggak tahu lagi kabarnya sekarang. Cinta monyet yang aneh. Hehe. Tapi itu menambah deret pengalaman saya yang nggak akan terlupakan, meskipun jika dia melupakan saya :)